Kritik Dan Saran

Sparkline 2768885

Facebook Profile

Multicursor - Busy

Death Note Another Note – Halaman 2

Disclaimer: DN LABB oleh Nisio Isin, ini hanya fan-translate dan tidak untuk diperjual belikan. Dilarang keras memposting ulang terjemahan ini tanpa mengikut sertakan kredit penerjemah dan link asli blog (http://www.intanchan.wordpress.com). Menerjemahkan itu tidak mudah, mohon dihargai ^^

Image
Translated by Azca Sky
Edited by Shiazen
Halaman 2: Ryuzaki
L telah dimusuhi oleh para detektif lain, dan beberapa yang iri padanya memanggilnya detektif pertapa, atau detektif komputer, namun tak satupun akurat untuk menggambarkan kenyataannya. Naomi Misora juga telah cenderung untuk berpikir bahwa L adalah detektif yang selalu duduk di kursi, namun nyatanya, L adalah kebalikannya, seorang individu yang aktif dan agresif. Meskipun ia sama sekali tidak tertarik pada pergaulan sosial, yang pasti ia juga bukan jenis detektif yang mengunci dirinya sendiri di ruangan gelap berbayang-bayang dan menolak untuk keluar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebenarnya perang detektif hebat, L, Eraldo Coil, dan Danueve sebenarnya adalah orang yang sama. Bisa dipastikan, siapapun yang membaca catatan ini hampir pasti tahu… meskipun mereka mungkin tidak tahu bahwa L mengalami perang dengan Eraldo Coil asli dan Danueve asli, dan membuktikan kemenangan, (mengklaim kode detektif mereka. Detail dari perang detektif ini akan kusimpan untuk saat yang lain, tapi termasuk tiga nama itu, L memiliki banyak kode detektif lainnya. Aku tidak tahu berapa banyak, tetapi paling tidak ada sekitar tiga digit. Dan banyak dari mereka adalah detektif terkenal – misalnya, seperti siapapun yang membaca catatan ini pasti tahu, ia muncul di hadapan Kira, memanggil dirinya sendiri Ryuzaki atau Ryuga Hideki.) Tentu saja, Naomi Misora tidak akan mungkin tahu mengenai ini, namun menurut pendapatku, nama L adalah, untuknya, hanya satu dari sekian banyak nama lain. Ia tidak pernah memiliki satu pun hubungan langsung pada identitas itu. Ia tidak pernah berpikir dirinya sendiri sebagai L, itu hanyalah nama yang paling terkenal dan berkuasa dari banyak kode detektif yang telah ia gunakan seumur hidupnya. Nama itu memiliki kegunaannya, namun kurang misterius. L memiliki sebuah nama asli yang tidak seorang pun mengetahuinya, dan tidak akan pernah, tapi sebuah nama yang ia tahu tidak pernah mendefinisikannya. Aku terkadang ingin tahu jika L sendiri pernah mengetahui tepatnya nama yang mana yang telah ditulis dalam Death Note, yang mana yang telah membunuhnya.
Aku ingin tahu.
Tapi kembali ke kasus pembunuhan BB Los Angeles.
“Ryuzaki…” ucap Naomi Misora, melihat kartu nama hitam yang telah diberikan padanya tanpa repot-repot menyembunyikan kecurigaannya. “Rue Ryuzaki, benar, kan?”
“Ya. Rue Ryuzaki,” jawab pria itu, dalam nada tak terganggu yang sama. Matanya yang lebar menatap menembus lingkaran hitam di sekelilingnya, dan ia menghisap ibu jarinya.
Mereka telah keluar dari kamar tidur ke dalam ruang tamu rumah Believe Bridesmaid. Mereka duduk berhadapan pada sofa yang mahal. Ryuzaki duduk dengan lutut ditarik ke atas dan lengan yang mendekapnya. Misora pikir ini terlihat sedikit kekanak-kanakan, namun karena Ryuzaki jelas-jelas bukan anak kecil, ini terlihat sedikit mengerikan. Fakta bahwa ia tidak bisa memberi komentar kepada Ryuzaki, itu semua karena ia sudah terlalu dewasa. Untuk mencairkan suasana diam yang canggung, Misora menunduk pada kartu itu lagi—Rue Ryuzaki: Detektif.
“Menurut kartu ini, kau adalah seorang detektif?”
“Ya, benar,”
“Maksudmu… seorang detektif pribadi?”
“Tidak, istilah itu tidak begitu tepat. Saya merasa kata ‘pribadi’ membawa egoisme berlebihan… anda bisa menyebut saya seorang detektif non-pribadi—detektif tanpa ego.”
“Begitu, ya…”
Dengan kata lain, ia tidak memiliki lisensi.
Jika ia membawa pulpen, ia pasti sudah menuliskan “idiot” pada kartunya, tapi sayangnya, tidak ada alat tulis yang bisa diraih, jadi ia memutuskan untuk meletakkannya di meja sejauh mungkin darinya, seolah itu benda yang menjijikkan.
“Jadi, Ryuzaki… kalau boleh kutanya lagi, apa yang sedang kau lakukan di bawah sana?”
“Sama dengan anda. Menyelidiki,” jawab Ryuzaki, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
Mata bertepi-hitamnya tidak pernah berkedip. Lebih seperti tidak tenang.
“Saya disewa oleh orangtua pemilik rumah ini—oleh orang tua Tuan Bridesmaid, dan saat ini saya sedang melakukan penyelidikan pembunuhan. Sepertinya anda ada di sini untuk alasan yang sama, Misora.”
Pada titik ini Misora tidak peduli lagi siapa Ryuzaki ini—detektif pribadi atau non-pribadi, yang jelas ia tidak ingin terlibat dengannya. Satu-satunya yang menjadi masalah adalah berapa banyak percakapannya yang telah didengar dari kolong tempat tidur… yang dalam skenario terburuk dapat mempengaruhi karir masa depannya. Jika informasi apapun mengenai L yang misterius dipublikasikan karenanya, ia akan harus melakukan lebih dari sekedar mengundurkan diri. Ia telah memulai topik ini dengan baik, dan ia telah menganggap tempat tidur telah menyamarkan suaranya sehingga Ryuzaki tidak bisa menangkap apa yang ia katakan dengan jelas, namun ini bukanlah sesuatu yang dapat ia percayai dengan mudah,
“Ya… Aku juga seorang detektif,” kata Misora, merasakan bahwa ia tidak punya pilihan lain. Jika ia tidak sedang cuti, pasti ia sudah mengaku sebagai agen FBI, namun karena sedang cuti, ia tidak mau membahayakan diri jika ada yang ingin melihat lencananya. Tampaknya lebih aman untuk berbohong—lagipula, ada kemungkinan bahwa Ryuzaki juga sedang berbohong. Ia tidak perlu merasa bersalah sama sekali.
“Aku tidak bisa mengatakan padamu kepada siapa aku bekerja, tapi aku sudah diminta untuk menyelidiki secara diam-diam. Untuk menemukan siapa yang telah membunuh Believe Bridesmaid, Quarter Queen, dan Backyard Bottomslash…”
“Benarkah? Kalau begitu kita bisa saling membantu!” katanya segera.
Kegelisahannya pada saat ini secara aneh menjadi lega.
“Jadi, Ryuzaki. Apakah kau menemukan sesuatu di bawah kasur yang mungkin berguna dalam menyelesaikan kasus ini? Kukira kau tadi sedang mencari apapun yang mungkin ditinggalkan sang pembunuh, tapi…”
“Bukan, bukan begitu. Saya mendengar seseorang memasuki rumah, jadi saya memutuskan untuk sembunyi dan mengamati situasi. Setelah beberapa saat tampak jelas bahwa anda bukan orang yang berbahaya, jadi saya keluar.”
“Orang yang berbahaya?”
“Ya. Contohnya, pembunuh itu sendiri, kembali untuk mengambil sesuatu yang ia lupakan. Jika memang benar begitu, maka sungguh kesempatan bagus! Tapi sepertinya harapan saya sia-sia.”
Pembohong.
Ia bisa mencium kebohongan itu.
Misora sekarang hampir teryakinkan bahwa ia telah bersembunyi di bawah sana untuk mendengarkan percakapannya dengan L. Di situasi yang lain, ini mungkin hanya paranoia belaka, tapi orang bernama Ryuzaki ini bukanlah orang biasa.
Tidak ada bagian dari dirinya yang tidak mencurigakan.
“Bagaimanapun, saya bertemu dengan anda sebagai gantinya, jadi itu tidak benar-benar mengecewakan. Ini bukan novel atau komik, jadi tidak ada alasan untuk sesama rekan detektif memandang rendah satu sama lain. Bagaimana menurutmu, Misora? Setuju untuk bertukar informasi?”
“Tidak. Terimakasih atas usulnya, tapi aku harus menolak. Aku memiliki tugas untuk menjaganya tetap rahasia,” balas Misora. L telah memberikan padanya semua tentang kasus yang bisa didapatkan siapa saja—tampaknya ia tidak akan mendapat informasi apapun dari seorang detektif pribadi tidak berpengalaman. Dan tentu saja, ia tidak berniat memberikan apapun padanya. “Aku yakin kau juga memiliki rahasiamu sendiri.”
“Tidak.”
“Tentu saja kau punya. Kau seorang detektif.”
“Oh? Kalau begitu aku punya.”
Fleksibel.
Keduanya tampak baik-baik saja untuknya.
“Tapi menurutku menyelesaikan kasus harus diprioritaskan… Baiklah, Misora. Bagaimana kalau begini: saya akan menyediakan segala informasi yang saya punya padamu tanpa imbalan.”
“Eh…? Uh, aku tidak mungkin…”
“Tolong. Sebenarnya, tidak penting apakah saya atau anda yang memecahkan kasusnya. Harapan klienku adalah untuk melihat kasusnya terpecahkan. Jika anda memiliki pikiran yang lebih tajam dariku, maka memberitahumu segalanya akan jadi lebih efektif.”
Semua itu terdengar manis, tapi ia tidak mungkin bersungguh-sungguh, jadi kewaspadaan Misora akan Ryuzaki tumbuh lebih tajam. Apa yang diinginkannya? Beberapa menit yang lalu ia telah mengarang sebuah kebohongan, mengaku bahwa ia berpikir dirinya mungkin adalah pembunuh yang kembali ke tempat kejadian, tapi teori itu tampak jauh lebih cocok untuk pria yang bersembunyi di bawah kasur daripada ia.
“Anda boleh memutuskan untuk memberiku informasimu atau tidak sesudahnya. Jadi, pertama, ini,” kata Ryuzaki, menarik lipatan kertas dari saku jeans-nya. Ia memberikannya pada Misora, tanpa repot membukanya dulu. Misora mengambilnya, dan membukanya dengan ragu. . itu adalah teka-teki silang. Sebuah rangkaian kotak-kotak, dan petunjuk dalam huruf-huruf kecil. Misora memiliki firasat tentang benda apa ini.
“Ini adalah…”
“Oh? Kau tahu tentang itu?”
“Tidak… tidak secara langsung.” ia tergagap, tidak yakin harus bagaimana harus bereaksi. Terlihat jelas bahwa ini adalah teka-teki silang yang sama dengan yang telah dikirim ke Kepolisian LA tanggal 22 Juli, tapi L mengatakan bahwa teka-teki yang asli sudah dibuang, jadi apakah ini salinan? Bagaimana pria ini… bagaimana Ryuzaki dapat berjalan-jalan dengan benda ini terlipat di kantongnya? Ketika ia berpikir dengan marah, Ryuzaki memandangnya dengan tatapan penuh penilaian. Seakan ia sedang menguji kemampuannya berdasarkan reaksinya…
“Biarkan saya menjelaskan. Bulan lalu, pada dua puluh dua Juli, teka-teki silang ini dikirimkan pada Kepolisian LA oleh pengirim yang tidak diketahui. Rupanya, tidak ada yang bisa memecahkannya, tapi jika anda bisa memecahkannya, teka-teki itu menunjukan alamat dari rumah ini. Dapat diduga bahwa ini adalah semacam peringatan dari pembunuh pada polisi dan masyarakat pada umumnya. Sebuah pernyataan perang, boleh dibilang.”
“Begitu rupanya. Tapi tetap saja…”
Disamping apa yang sudah dikatakan L, sebagian dari dirinya sudah mengabaikan hal itu layaknya seperti teka-teki silang biasa, tapi sekarang ketika ia bisa melihat petunjuknya dengan mata kepala sendiri, teka-teki silang itu tampak sangat amat sulit. Petunjuknya tampak sangat melelahkan sehingga kebanyakan orang akan menyerah bahkan sebelum mencoba untuk memecahkan salah satunya. Tapi pria di seberangnya telah memecahkannya sendirian?
“Kau yakin jawabannya menunjukkan alamat ini?”
“Ya. Coba saja simpan dan pecahkan sendiri kalau anda ragu. Bagaimanapun, pembunuh yang mengirim peringatan biasanya mencari perhatian, kalau mereka tidak punya beberapa alasan lain yang lebih besar. Dan aspek Wara Ningyo dan ruang tertutup dari kasus cocok dengan kepribadian itu. Jadi kelihatannya banyak kemungkinan adanya pesan-pesan lain… atau sesuatu seperti pesan, ditinggalkan di tempat kejadian. Benar, kan, Misora?”
Kesimpulan yang sama dengan L.
Siapa pria ini?
Jika ia hanya menyatakan sesuatu seperti L, Misora dapat menyimpulkan bahwa ia mengatakannya berdasarkan percakapan yang ia dengar dari bawah kasur, tapi untuk benar-benar memiliki salinan dari teka-teki silang itu, sebuah teka-teki yang seharusnya hanya orang seperti L yang bisa dapatkan… Pertanyaan akan identitas Ryuzaki sekali lagi telah menjadi sangat penting untuknya.
“Permisi,” kata Ryuzaki, meletakkan kedua kakinya di tanah dan menuju, masih membungkuk, ke dapur—seperti meluncur keluar ruangan untuk memberi Misora waktu untuk menenangkan diri. Ia membuka kulkas dengan gerakan terlatih, seakan ini adalah rumahnya sendiri, memasukkan tangannya ke dalam, dan mengeluarkan sebuah toples—dan kemudian meringkuk kembali ke sofa, meninggalkan pintu kulkas terbuka. Benda itu tampaknya setoples selai stroberi.
“Ada apa dengan selai itu?”
“Oh, ini milikku. Saya membawanya dan meletakkannya di sana untuk menjaganya agar tetap dingin. Sudah waktunya makan siang sekarang.”
“Makan siang?”
Masuk akal bahwa tidak akan ada makanan di kulkas orang yang sudah mati dua minggu yang lalu, tapi makan siang? Misora sendiri menyukai selai, tapi ia tidak melihat roti sama sekali—dan tidak juga terlintas di pikirannya ketika Ryuzaki membuka tutupnya, memasukkan tangannya ke dalam, menyendok selai, dan mulai menjilatinya dari jarinya.
Naomi Misora menganga padanya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Mmm? Ada masalah, Misora?”
“K-kau memiliki kebiasaan makan yang aneh.”
“Benarkah? Menurutku tidak.”
Ryuzaki menyendok segenggam lagi selai ke mulutnya.
“Saat saya mulai berpikir, saya mulai membutuhkan manisan. Jika saya ingin bekerja dengan baik, selai itu diperlukan. Gula bagus untuk otak.”
“Hunh…”
Misora berpendapat bahwa otaknya perlu perhatian medis khusus lebih dari gula, tapi saat itu, ia tidak memiliki keberanian untuk berkata begitu. Bahasa tubuhnya mengingatkannya pada Pooh Bear, tapi Ryuzaki tidak kuning ataupun menggemaskan, dan tidak mirip beruang sama sekali, melainkan seorang pria tinggi dengan punggung bungkuk. Saat ia sudah memakan empat genggam penuh selai, ia meletakkan bibirnya langsung ke tepi toples seakan itu adalah secangkir teh dan menyeruput isinya dengan berisik. Dalam beberapa saat ia sudah menghabiskan seluruh toples.
“Maaf untuk penundaannya.”
“Oh… tidak apa-apa.”
“Saya punya selai lagi di kulkas, anda mau?”
“T-tidak terimakasih…”
Makanan itu seperti siksaan. Ia bahkan akan menolaknya kalau pun ia sudah kelaparan sampai mati. Setiap serat di tubuhnya menolak Ryuzaki. Sepenuhnya. Misora tidak pernah memiliki kepercayaan diri untuk memalsukan senyuman, tapi satu yang ia tujukan padanya saat ini tampak sangat meyakinkan.
Orang dapat tersenyum bahkan saat ketakutan.
“Oke,” kata Ryuzaki, menjilati selai dari jari-jarinya, tidak menunjukkan tanda bagaimana Misora memandang reaksinya. “Jadi, Misora, ayo pergi.”
“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Misora, dengan sia-sia mencoba untuk menemukan cara menolak berjabat tangan dengannya.
“Jelas,” kata Ryuzaki, “Untuk melanjutkan penyelidikan kita pada tempat kejadian, Misora.”
Pada saat ini, Misora seharusnya masih mampu untuk (dengan egois) memilih jalannya pada apa yang akan datang. Ia dapat secara fisik melempar Ryuzaki keluar dari rumah Believe Bridesmaid, dan kita bahkan dapat mengatakan, bahwa melakukan itu adalah reaksi yang paling bijaksana akan keberadaannya, tapi disamping menjadi sangat, sangat tertarik untuk mengambil langkah bijaksana, Misora meyakinkan dirinya untuk membiarkan Ryuzaki tinggal. Lebih dari apapun, kemungkinan bahwa ia telah menguping percakapannya dengan L membuat Ryuzaki berbahaya, dan bahkan mengabaikan bahwa ia mencurigakan, mengerikan, dan memiliki salinan teka-teki silang itu, yang telah menutup kesepakatan. Ia perlu menjaganya dalam pengamatan sampai ia memiliki ide lebih baik tentang siapa Ryuzaki. Pastinya, siapapun yang tahu lebih banyak tentang situasinya, siapapun seperti aku, bisa mengatakan bahwa ini tepatnya yang Ryuzaki harapkan, tepatnya yang ingin ia raih, tapi akan jadi terlalu berlebihan jika mengharapkan Naomi Misora untuk menyadarinya sedini ini. Lagipula, beberapa tahun setelah Kasus Pembunuhan Los Angeles BB, ketika ia dibunuh oleh Kira, Misora tetap yakin bahwa ia belum pernah bertemu dengan L secara langsung, bahwa ia hanya mematuhi perintah suara-sintesisnya dari layar komputernya. Tergantung bagaimana kau melihatnya, ini mungkin saja hal yang bagus untuk dunia bahkan si pembunuh Kira, yang jika ia tahu sedikit saja seberapa dalam hubungan Misora dengan L, tidak akan membunuhnya begitu cepat. Hidup L hanya bertambah beberapa tahun lebih, tapi bahkan itu bisa juga berkat Misora… nah, tidak penting untuk menduga-duga.
Kembali ke titik ini.
Siapapun yang telah membaca Sherlock Holmes akan mengingat deskripsi gamblang dari seorang detektif yang berkeliling ruangan, mengamati lekat-lekat segala sesuatu melalui kaca pembesar. Sebuah kesan khas yang bekerjasama dengan novel detektif tua yang mana orang tidak pernah melihat detektif bertindak seperti itu lagi. Untuk hal itu, istilah novel detektif hampir tidak pernah digunakan—mereka dipanggil novel misteri, atau novel mengerikan. Tidak ada yang menginginkan detektif yang benar-benar menduga segalanya—jauh lebih menarik jika mereka hanya mengatakan kebenarannya. Sama seperti komik untuk anak lelaki di Jepang, populer di seluruh dunia. Semua buku yang paling populer memiliki pahlawan dengan pengecualian kekuatan.
Jadi ketika mereka memasuki kamar tidur dan Ryuzaki tiba-tiba turun dan mengambil posisi merangkak, persis seperti saat ia keluar dari bawah kasur, dan mulai merangkak ke seluruh ruangan (sekalipun tanpa kaca pembesar) Misora benar-benar terkejut. Kelihatannya, berada di bawah tempat tidur bukan satu-satunya alasan untuk sikapnya ini. Ia tampak begitu terbiasa mengahbiskan waktu merangkak-rangkak sampai ia terlihat akan memanjat dinding dan melintasi langit-langit.
“Apa yang kau tunggu, Misora? Bergabunglah denganku!”
Misora menggelengkan kepala cepat sekali hingga membuat pandangannya kabur.
Itu menghina kehormatannya sebagai wanita. Bukan, sebagai manusia—bergabung dengannya akan selamanya memisahkannya dari sesuatu yang sungguh-sungguh penting.
“Oh? Sayang sekali,” kata Ryuzaki, rupanya tidak pernah memiliki sesuatu yang penting itu dari awal. Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih dan melanjutkan menyelidiki ruangan.
“T-tapi Ryuzaki… menurutku tidak ada lagi yang tertinggal disini untuk ditemukan. Maksudku, polisi sudah mencarinya dengan sangat teliti…”
“Tapi polisi melewatkan teka-teki silangnya. Sama sekali tidak mengejutkan bagiku jika mereka melewatkan sesuatu yang lain di sini.”
“Jika kau menganggapnya seperti itu… tapi hanya ada sangat sedikit hal yang diketahui. Aku harap aku memiliki petunjuk untuk apa yang harusnya kucari—ruangannya terlalu kosong untuk hanya asal memeriksanya secara acak. Dan rumah ini terlalu luas.”
“Sebuah petunjuk…?” kata Ryuzaki, berhenti di tengah gerakan setengah-merangkak. Lalu perlahan ia menggigit jempolnya dengan hati-hati sampai tampak seperti sedang berfikir sangat keras, namun arti gerakan itu terlalu kekanak-kanakan yang membuatnya terlihat sangat bodoh juga. Misora tidak bisa memutuskan mana yang keluar jadi pemenang. “Bagaimana, Misora? Ketika anda masuk, apakah anda memikirkan sesuatu? Apapun yang bisa membantu menyempitkannya?”
“Emm… ya, tapi…”
Ada satu hal tentang potongan di dada korban. Ia sepenuhnya tidak yakin ia harus mengatakan semua itu pada Ryuzaki. Tapi, di sisi lain memang benar bahwa ia tidak bergerak kemana-mana… baik dengan kasusnya, atau dengan Ryuzaki. Mungkin ia harus menguji Ryuzaki, seperti halnya ia telah mengamati reaksi Misora saat ia mengulurkan padanya teka-teki silang itu. Jika Misora bisa memainkan kartunya dengan benar, ia mungkin bisa mengetahui apakah Ryuzaki telah mendengar teleponnya dari bawah kasur.
“Baik… Ryuzaki, sebagai ucapan terimakasih atas sebelulmnya, daripada sebuah pertukaran informasi yang lengkap… lihatlah foto ini.”
“Foto?” kata Ryuzaki, dengan reaksi yang sangat dibesar-besarkan hingga orang akan mengira ia tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya. Ryuzaki mendekat padanya… masih dengan merangkak, dan tidak repot-repot membalik badan. Ia benar-benar merangkak mundur kearahnya, sebuah gerakan yang pasti sudah membuat anak kecil menangis.
“Sebuah gambar korban.” kata Misora, menyerahkan foto otopsi padanya.
Ryuzaki mengambilnya, mengangguk penting—atau membuat seolah sedang mengangguk penting. Cukup dengan pengujiannya dari reaksi tak terbayangkan Ryuzaki, ia benar-benar tidak dapat menyimpulkan apapun.
“Bagus, Misora!”
“Ya?”
“Berita tidak menyebutkan bahwa tubuhnya dipotong seperti ini, yang berarti foto ini berasal dari dokumen kepolisian. Saya kagum bahwa anda bisa mendapatkannya. Anda jelas bukan detektif biasa.”
“…Jadi bagaimana kau mendapatkan teka-teki silang itu, Ryuzaki?”
“Itu akan tetap menjadi rahasiaku.”
Serangan baliknya dipatahkan dengan sangat mudah. Ia terlambat berharap bahwa ia telah membolehkan Ryuzaki untuk menolak bahwa ia memiliki rahasia, bahwa ia tidak pernah mengajarinya konsep itu sejak awal. Ia juga sangat yakin itu tidak masuk akal secara gramatikal.
“Saya juga tidak bertanya bagaimana kau mendapatkan foto ini, Misora. Tapi bagaimana ini bisa berhubungan dengan idemu?”
“Ya, baiklah… Kupikir jika pesannya mungkin berada pada sesuatu yang sudah tidak ada di ruangan lagi, tapi ada di ruangan pada saat itu. Dan yang hal yang paling jelas yang seharusnya ada disini, tetapi tidak ada…”
“Adalah pemilik ruangan, Belive Bridesmaid. Pintar.”
“Dan jika kau melihat gambar itu dari sudut yang benar… apakah bekas luka itu terlihat seperti huruf bagimu? Kupikir mungkin itu adalah semacam pesan…”
“Oh?” kata Ryuzaki, menahan gambarnya tetap diam sempurna ketika ia menggerakkan kepalanya dengan tersentak-sentak. Apakah tidak ada tulang yang padat di lehernya? Ia bergerak seperti manusia karet. Misora melawan keinginannya untuk berpaling. “Bukan, bukan huruf.”
“Bukan? Kukira terbaca seperti itu…”
“Bukan, bukan, Misora, saya tidak menyangkal seluruh idenya, hanya sebagian. Ini bukan huruf, tapi angka Romawi.”
Oh.
Benar, angka Romawi, hal yang sama yang ia lihat pada jam dan rak dinding setiap hari—V dan I, jelas, dan C, M, D, X, dan L… ia harusnya sudah menduganya ketika ia melihat tiga I saling berdekatan—itu bukan tiga I, tapi III. Tapi ada L juga setelahnya, dan ia telah menghubungkannya dengan nama detektif itu dan teralih sendiri.
“I adalah satu, II adalah dua, III adalah tiga, IV adalah empat, V adalah lima, VI adalah enam, VII adalah tujuh, VIII adalah delapan, IX adalah sembilan, X adalah sepuluh, L adalah lima puluh, C adalah seratus, D adalah lima ratus, M adalah seribu. Jadi luka ini bisa dibaca sebagai 16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31,” kata Ryuzaki, membaca angka-angka yang rumit tanpa sedetikpun jeda. Apakah ia ahli dalam angka Romawi, atau apakah pikirannya benar-benar bekerja secepat itu?
“Ini cuma foto, jadi mungkin saya tidak membacanya dengan benar, tapi ada delapan puluh persen kemungkinan saya benar.”
“Persen?”
“Bagaimanapun, saya takut itu tidak mengubah situasi. Kecuali kita bisa menemukan apa seharusnya arti angka-angka itu, akan sangan berbahaya menduga bahwa mereka adalah pesan dari si pembunuh. Mungkin mereka pengalih perhatian.”
“Permisi, Ryuzaki,” kata Misora, mengambil satu langkah ke belakang.
“Untuk apa?”
“Aku harus membenahi riasanku.”
Tanpa menunggu respon, Misora meninggalkan kamar tidur dan menaiki tangga, menuju toilet di lantai dua (bukan di lantai satu). Ia mengunci pintunya dari dalam dan mengeluarkan telepon genggamnya. Ia ragu-ragu sesaat, lalu menelepon L. Di saluran nomor lima. Beberapa bunyi bip singkat, dan akhirnya terhubung.
“Ada apa, Naomi Misora?”
Suara sintetis itu.
Merendahkan suaranya dan menyembunyikan mulutnya di balik tangannya, Misora berkata, “Sesuatu yang harus kulaporkan.”
“Kemajuan dalam kasus? Kerja yang sangat cepat.”
“Bukan… yah, sedikit. Aku mungkin telah menemukan sebuah pesan dari si pembunuh.”
“Mengagumkan.”
“Tapi bukan aku yang menyadarinya. Bagaimana mengatakannya… semacam detektif pribadi yang misterius…”
Seorang detektif pribadi misterius.
Kalimat itu hampir membuatnya tertawa.
“…baru saja muncul.”
“Begitu,” suara sintetis itu berkata, lalu terdiam.
Itu adalah kesunyian yang sama sekali tidak nyaman untuk Misora, ia telah memutuskan untuk menunjukkan gambar itu pada Ryuzaki dan bermaksud mengujinya. Ketika L tidak mengatakan apa-apa, Misora melanjutkan dengan menjelaskan apa yang Ryuzaki katakan tentang foto otopsi itu. Dan bahwa ia memiliki salinan dari teka-teki silang itu. Sepotong informasi ini akhirnya menghasilkan reaksi dari L, tapi karena itu hanyalah suara sintetis, ia tidak bisa membaca emosi di baliknya.
“Apa yang harus kulakukan? Sebetulnya, kupikir berbahaya untuk melepaskan pandanganku darinya.”
“Apakah ia keren?”
“Hunh?”
Pertanyaan L benar-benar keluar dari pembicaraan, dan ia memaksa untuk menanyakannya untuk kedua kalinya sebelum Misora menjawab, masih tidak bisa mengerti dengan arah pembicaraan.
“Tidak, sepenuhnya tidak,” katanya jujur, “Menyeramkan dan menyedihkan, dan sangat mencurigakan hingga jika aku tidak sedang cuti, aku akan langsung menahannya ketika aku melihatnya. Jika kita membagi semua orang di dunia menjadi yang lebih baik mati atau tidak, tak ada keraguan di benakku bahwa ia akan jadi yang pertama. Benar-benar orang aneh yang membuatku kagum bahwa ia belum membunuh dirinya sendiri.”
“…”
Tidak ada jawaban.
Tentang apa ini sebenarnya?
“Naomi Misora, instruksi anda.”
“Ya?”
“Saya membayangkan bahwa anda berfikir hal yang kurang lebih sama dengan saya, tapi biarkan detektif pribadi ini melakukan apa yang disukainya untuk sementara. Sebagian karena itu berbahaya membiarkannya lepas dari pengawasan anda, tapi lebih penting lagi karena sangat penting untuk mengamati gerakannya. Saya percaya pujian untuk dugaan foto autopsi lebih menjadi milik anda daripada miliknya, tapi ia jelas bukan orang biasa.”
“Aku setuju.”
“Apakah ia ada di dekat sini?”
“Tidak, aku sendirian. Aku menelepon dari kamar mandi, di lantai atas dan di belakang rumah, jauh dari kamar tidur.”
“Segera kembalilah ke sisinya. Saya akan menyelidikinya, dan mencoba untuk menemukan apakah seorang detektif bernama Ryuzaki benar-benar telah disewa oleh orangtua Believe Bridesmaid.”
“Baik.”
“Anda bisa menggunakan saluran yang sama lain kali menelepon.” Dan ia menutup telepon.
Misora menutup teleponnya.
Ia harus kembali secepatnya, sehingga tidak akan tampak mencurigakan, tapi ia telah meninggalkannya dengan waktu yang kurang tepat, pergi ke kamar mandi.
Ryuzaki sedang berdiri tepat di depan pintu. “Eek…!”
“Misora. Anda ada di atas sini?”
Ia tidak sedang merangkak, tapi meskipun begitu, Misora menelan ludah. Sudah berapa lama ia ada di sana?
“Setelah anda keluar dari ruangan, saya menemukan sesuatu yang menarik dan tidak bisa menunggu. Jadi saya menyusul. Apakah anda sudah selesai?
“Y-ya…”
“Kemarilah.”
Ia berderap keluar, masih membungkuk, menuju tangga. Masih terguncang, Misora mengikutinya. Apakah ia telah mendengarkan semuanya dari balik pintu? Pertanyaan ini menyiksanya. Ia menemukan sesuatu yang menarik? Itu mungkin saja hanya beberapa kalimat… ia telah menjaga suaranya sangat pelan sehingga tidak mungkin ia bisa mendengar, tapi bagaimanapun ia telah hampir pasti mencoba untuk menguping. Yang berarti…
“Oh, Misora,” kata Ryuzaki, tanpa berbalik.
“Y-ya?”
“Kenapa saya tidak mendengar suara siraman toilet sebelum anda keluar ruangan?”
“Sepertinya terdengar kasar untuk menanyakan hal seperti itu pada seorang gadis, Ryuzaki,” ucap Misora akhirnya, agak canggung karena kesalahannya. Ryuzaki tidak tampak terpengaruh.
“Benarkah? Bagaimanapun… belum terlambat kalau anda belum menyiramnya. Anda masih bisa kembali. Gender dianggap sama saja kalau berhubungan dengan kebersihan.”
Cara yang benar-benar menyeramkan untuk menyimpulkannya.
Dalam setiap katanya.
“Aku tadi sedang menelepon. Laporan teratur untuk klien-ku. Tapi aku tidak ingin kau mendengarnya.”
“Oh? Tapi tetap saja, mulai sekarang, lebih baik anda menyiramnya. Untuk kamuflase juga bagus.”
“Sepertinya begitu.”
Mereka sampai di kamar tidur. Ryuzaki langsung merangkak setelah melewati ambang pintu. Terlihat lebih seperti kegiatan religius pembawa sial daripada penyelidikan Sherlock Holmes.
“Di sebelah sini.” Ryuzaki meraih dirinya sendiri melewati karpet ke arah rak buku.
Rak buku milik Believe Braidsmaid, dengan lima-puluh-tujuh buku yang tertata rapi. Itu adalah tempat pertama yang diselidikinya setelah berbicara dengan L.
“Kau bilang kau menemukan sesuatu yang baru?”
“Ya. Sesuatu yang baru—tidak, lebih tepatnya begini. Saya sudah menemukan fakta penting.”
Usaha Ryuzaki untuk terlihat keren mengganggunya. Ia mengabaikannya.
“Jadi, maksudmu, kau menemukan semacam petunjuk, begitu?”
“Lihat,” kata Ryuzaki, menunjuk sisi kanan rak kedua dari bawah. “Ada sebelas seri dari komik Jepang terkenal bernama Akazukin Chacha.”
“Lalu?”
“Saya suka komik ini.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Bagaimana ia harus merespon? Berlawanan dengan harapannya, ia merasakan ekspresinya melembut, namun tidak berusaha untuk memeriksa penolakan dalam dirinya, saat Ryuzaki melanjutkan.
“Kau Nikkei, bukan?”
“Nikkei…? Kedua orangtuaku berasal dari Jepang. Pasporku sekarang memang Amerika, tapi aku tinggal di Jepang hingga setelah SMA…”
“Jadi anda pasti tahu komik ini. Ciptaan legendaris Min Ayahana. Saya membaca semua serinya. Shiine benar-benar mengagumkan! Saya suka anime-nya juga. Cinta dan keberanian dan harapan—Holy Up!”
“Ryuzaki, kau mau seperti ini dulu beberapa saat? Kalau begitu, aku akan menunggu di ruangan lain…”
“Kenapa anda melakukannya saat saya bicara denganmu?”
“Er, um… maksudku, aku juga menyukai Akazukin Chacha. Aku menonton anime-nya. Aku juga mengalami cinta, keberanian, harapan dan Holy Up.”
Ia benar-benar ingin memberitahu Ryuzaki tepatnya betapa sedikit kepeduliannya pada hobi Ryuzaki, namun diragukan apakah detektif pribadi ini bisa mengerti pendapat yang ditujukan padanya masuk akal. Meragukan seperti Ryuzaki sendiri.
Atau apakah itu terlalu membesar-besarkan?
“Bagus. Kita harus membicarakan detil kesenangan yang diberika anime di lain waktu, tapi untuk sekarang, lihat di sini.”
“Hunh…” ucap Misora, melihat serial Akazukin Chacha di rak buku dengan patuh.
“Menyadari sesuatu?”
“Tidak juga…”
Itu hanyalah setumpuk komik. Pada dasarnya mereka dapat menyimpulkan Believe Braidsmaid pintar berbahasa Jepang, dan menyukai komik… tapi banyak orang seperti itu di Amerika. Membaca versi Jepang asli dan bukan terjemahannya juga bukan hal yang benar-benar aneh. Dengan adanya jual beli Internet, sangat mudah untuk mendapatkannya.
Mata bertepi-gelap Ryuzaki menatap lurus padanya. Merasa tidak nyaman, Misora menghindari tatapannya, memeriksa setiap seri. Namun bahkan setelah ia selesai memeriksa semuanya, ia tidak menemukan fakta yang menarik atau apapun yang bisa dijadikan petunjuk.
“Aku tidak melihat apa-apa… ada sesuatu tentang satu dari komik-komik ini?”
“Tidak.”
“Hah?” Ada lebih dari nada marah dari suaranya. Ia tidak suka dipermainkan. “Tidak? Apa maksudmu?”
“Bukan salah satu,” kata Ryuzaki. “Sesuatu yang seharusnya ada di sini, tetapi tidak ada. Misora, anda lah yang menemukannya—pesan apapun dari sang pembunuh menunjukkan apapun yang seharusnya ada menjadi tidak ada. Anda  lah yang menemukan bahwa ini berarti tubuh Believe Braidsmaid. Saya tidak berpikir saya harus menjelaskan ini padamu—lihat baik-baik, Misora. Tidak semua ada di sini. Seri keempat dan kesembilan hilang.”
“Eh?”
“Akazukin Chacha ada tiga belas seri. Bukan sebelas.”
Misora melihat buku-buku itu lagi, dan nomornya berurutan dari satu, dua, dan tiga ke lima, enam, tujuh, dan delapan ke sepuluh. Jika Ryuzaki benar, dan ada tiga belas seri, jadi dua seri menghilang—seri empat dan sembilan.
“Hmm… benar. Tapi… Ryuzaki, lalu kenapa? Maksudmu pembunuhnya mengambul dua seri itu bersamanya? Itu memang mungkin, tapi sepertinya mereka memang menghilang dari awal. Mungkin ia bermaksud mengambilnya nanti. Tidak semua orang membaca komik berurutan, kau tahu. Maksudku, mungkin ia berhenti di tengah-tengah bagian Dickwood, di sini…”
“Mustahil,” kata Ryuzaki, yakin “Tidak ada yang akan melewati dua seri di tengah-tengah Akazukin Chacha. Say benar-benar yakin fakta ini dapat diterima di pengadilan.”
Pria ini pernah ada di pengadilan?
“Atau paling tidak, jika anggota jaksa tahu banyak tentang komik Jepang.”
“Jaksa yang buruk.”
“Pembunuhnya jelas-jelas membawa buku-buku itu bersamanya,” kata Ryuzaki, terang-terangan mengacuhkannya. Misora tidak akan membiarkan ini. Kakinya tertanam di tanah yang lebih realistis.
“Tapi kau tidak punya bukti sama sekali, Ryuzaki. Sama mungkinnya jika ia hanya meminjamkannya pada seorang teman.”
“Akazukin Chacha?! Anda bahkan tidak akan meminjamkannya pada orangtuamu! Anda akan menyuruh mereka membelinya sendiri! Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah pembunuh itu mengambilnya!” Ryuzaki bersikeras, cukup memaksa.
Ia tidak berhenti di sana.
“Lagipula, tidak ada seorangpun yang hanya ingin membaca seri keempat dan kesembilan—saya berani mempertaruhkan selaiku!”
“Jika maksudmu selai yang tadi kau makan, setoples hanya berharga sekitar lima dolar.”
Min Ayahana pasti akan menjadi sangat kecewa.
“Jadi itu cocok, Misora, bahwa saat pembunuh itu memindahkan dua seri dari ruangan, ia menggantinya dengan benda lain, untuk alasan yang sama sekali tak ada hubungannya.”
Karena dua buku itu memang menghilang, mengabaikan logika dan kemungkinan untuk saat ini dan mengikuti hipotesis ini… “Tetap saja aneh, ‘kan? Maksudku, Ryuzaki, rak buku ini…”
Terisi penuh. Sangat rapat sehingga akan sulit untuk memindahkan sebuah buku. Jika ia benar-benar memindahkan dua seri, maka seharusnya akan ada celah… atau…
“Ryuzaki. Apa kau tahu berapa banyak halaman dari buku keempat dan kesembilan Akazukin Chacha?”
“Ya. 192 halaman dan 184 halaman.”
Ia tidak mengharapkan Ryuzaki untuk tahu jawabannnya… tetapi 192 ditambah 184 adalah 376 halaman. Misora memandang sekilas sepanjang rak, mencari dari lima-puluh-tujuh buku untuk sebuah buku setebal 376 halaman. Tidak butuh waktu lama. Hanya ada satu buku setebal itu di rak ini—
Insufficient Relaxation oleh Permit Winter.
Ketika ia mengambilnya dari rak, memang, buku itu benar-benar 376 halaman.
Misora membuka-buka halamannya dengan penuh harap, tapi ia tidak menemukan hal yang terlihat menarik.
“Ada apa, Misora?”
“Oh… aku berpikir jika pembunuhnya menaruh pengganti di rak untuk menggantikan dua buku yang diambilnya dan jika pengganti itu adalah pesan yang sebenarnya.”
Dengan asumsi memang Believe Bridesmaid yang telah menyusun bukunya dengan hati-hati sehingga mengisi rak dengan tepat. Mungkin saja itu terjadi terburu-buru, dan sang pembunuh mengisi dengan buku dari ruangan lain sekenanya—dan dengan pikiran itu, tidak ada yang tahu apakah Akazukin Chacha memang milik Belive Bridesmaid. Dengan kurangnya pembatas buku, mungkin saja itu bagian dari pesan pembunuh—tapi lalu apa? Jika memang begitu, hanya akan membuatnya lebih jelas bahwa ada pesan yang tertinggal. Tapi jika tidak ada yang aneh pada rak buku itu sendiri, maka seluruh teori runtuh. Tidak lebih dari sekedar khayalan.
“Tidak buruk. Bukan, malah sangat bagus—selain itu tak akan masuk akal,” kata Ryuzaki, meraih ke arah Misora.
Sesaat ia mengira Ryuzaki ingin berjabat tangan, dan panik, tapi kemudian ia menyadari Ryuzaki hanya menginginkan Insufficient Relaxation. Ia menyerahkannya pada Ryuzaki. Ryuzaki mengambilnya dengan telunjuk dan ibu jarinya, dan mulai membaca. Membaca cepat—ia melewati 376 halaman dengan kecepatan luar biasa.
Kurang dari lima menit untuk membaca seluruh buku.
Misora hampir ingin membuatnya membaca Natsuhiko Kyogoku[1].
“Saya tahu!”
“Eh? Kau menemukan sesuatu?”
“Tidak. Tidak ada apapun di sini. Jangan melihatku seperti itu. Saya bersumpah, saya tidak bercanda. Ini hanya novel hiburan, bukan pesan, atau bahkan metafora seperti Wara Ningyo. Dan tentu saja, tidak ada huruf apapun yang tersembunyi di antara halaman, atau tersisip di garis tepi.”
“Garis tepi?”
“Ya, tidak ada apapun di garis tepi kecuali nomor halaman.”
“Nomor halaman?” gaung Misora. Nomor halaman… angka? Angka, seperti… angka Romawi?
“Ryuzaki, jika potongan di dada korban adalah angka Romawi, apa yang dikatakannya”
“16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31.”
Ingatan yang bagus. Bahkan tanpa melihat kembali fotonya. Hampir seperti ingatan fotografis—pertama halaman buku, dan sekarang ini.
“Kenapa dengan itu?”
“Mungkin saja mereka menunjukkan halaman dalam buku ini, tapi… dua dari angka-angka itu empat digit. Buku itu hanya setebal 376 halaman. Tidak cocok.”
“Ya… tidak, Misora, bagaimana jika itu berputar balik? Contohnya, 476 bisa dilihat sebagai 376 ditambah seratus, dan menunjukkan halaman 100.”
“…yang maksudnya?”
“Aku tidak tahu. Coba saja… 16 mudah, halaman 16. 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, 31…”
Ryuzaki menyipitkan mata bertepi-gelap-nya.
Bahkan tidak melihat buku. Benarkah? Bahkan dalam kecepatan membaca seperti itu, ia mengingat seluruh isinya dengan sempurna? Apakah itu mungkin? Apakah ia benar-benar bisa melakukannya? Apapun itu, Misora hanya bisa berdiri dan menunggu.
“… aku tahu.”
“Bahwa tidak ada apapun di sana?”
“Tidak… ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sangat spesifik, Misora.” Ryuzaki menyerahkan Insufficient Relaxation kembali ke Misora. “Buka halaman 16,” ucapnya.
“Baik.”
“Apa kata pertama halaman itu?”
“Quadratic.”
“Selanjutnya halaman 59. Kata pertamanya?”
“Ukulele.”
“Selanjutnya halaman 295. 1423 berputar tiga kali, dan mencapai 295 di putaran keempat. Kata pertama?”
“Tenacious.”
Mereka melanjutkan. 159 adalah halaman 159, 13 adalah 13, 7 adalah 7, 582 adalah 206, 752 adalah 348, 1001 adalah 249, 40 adalah 40, 51 adalah 51, dan 31 adalah 31, dan di setiap halaman, Misora membacakan kata pertamanya. Secara berurutan: “rabble,” “table,” “egg,” “arbiter,” “equable,” “thud,” “effect,”“elsewhere,” dan “name.”
“Jadi.”
“Jadi… apa?”
“Ambil huruf pertama dari setiap kata.”
“Huruf pertama? Um…”
Misora kembali ke masing-masing halaman lagi. Ia tidak memiliki ingatan yang buruk, tetapi tidak bisa mengingat dua puluh kata sekaligus. Paling tidak, tidak tanpa diperingatkan bahwa ia harus melakukannya.
“Q-U-T-R-T-E-A-E-T-E-E-N… qutr te a teen? Apa?”
“Sangat mirip dengan nama korban kedua, benar?”
“Mungkin…”
Korban kedua. Gadis berumur tiga-belas tahun. Quarter Queen.
“Ada kemiripan yang samar… Quarter Queen… hanya ada empat huruf berbeda.”
“Ya. Bagaimanapun,” kata Ryuzaki, enggan. “Empat huruf dari dua belas terlalu banyak. Sepertiga dari mereka salah. Bahkan jika satu huruf saja berbeda, seluruh teorinya runtuh. Kecuali itu sesuai dengan sempurna, tidak bisa dibilang pesan. Kukira akan ada sesuatu, tapi mungkin saja hanya kebetulan…”
“Tapi… untuk sebuah kebetulan…”
Terlalu jelas.
Bagaimana bisa?
Itu pasti disengaja.
Disengaja… atau abnormal.
“Tetap saja, Misora… tidak cocok tetap tidak cocok. Kita tadi sangat dekat, tapi…”
“Tidak, Ryuzaki. Coba pikir. Empat nomor yang salah adalah nomor di atas 376. mereka semua angka yang harus diputar balik.”
Ia membalik melintasi halaman, memeriksanya lagi. Halaman 295, kata pertama: tenacious, huruf pertama: T, huruf kedua E, huruf ketiga N, huruf keempat.. A.
“Tiga kali putaran, dan di putaran keempat… kita tidak menggunakan huruf pertama, melainkan huruf keempat. Bukan T, tetapi A. Dan dengan 582, dan “arbiter”, sekali memutar dan di putaran kedua menghasilkan R bukannya A. Itu mengubah Qutrtea menjadi Quarter.”
Dengan logika yang sama, “equable” adalah 724, jadi sekali memutar, pada putaran kedua, huruf kedua: Q.
Dan dengan 1001 dan “thud”—bukan T, tetapi U. Itu membuat Eteen menjadi Queen. Quarter Queen. L memang benar.
Pembunuhnya meninggalkan pesan.
Potongan di tubuh, dua buku yang hilang—pembunuhnya telah meninggalkan pesan. Sama seperti teka-teki silang yang dikirim pada polisi, sebuah pesan menjelaskan korban berikutnya…
“Kerja bagus, Misora,” kata Ryuzaki, tenang. “Analisis yang sangat bagus. Tak pernah terlintas di pikiranku.”
.
.
-Bersambung di halaman 3: Oposisi-

Terrorist Takedown War In Colombia Full Crack - Indowebster

Terrorist Takedown War In Colombia Full Crack - Indowebster

Terrorist Takedown War In Colombia Full Crack - Indowebster | 427 MB
info isalgames

Terrorist Takedown War In Colombia Full Crack - Indowebster - Began when U.S. Army 'advisers' came under fire while spraying defoliant on coca crops east of Bogota. Within hours it had escalated into full-scale war. The Army had stumbled upon the main operation of the Bendicion drug cartel the biggest in Colombia. And now it faced a ruthless enemy with more men and the best weapons that drug money could buy.

The uphill battle opens up a rare opportunity. Bendicion's three drug lords are all on site. Jose Esquilla is the man who runs the campesinos and is successfully growing coca faster than the U.S. can spray it. Nelson Sadilla is the man who manufactures the cocaine paste with brutal efficiency. And Tomas Alphonso Archangel is the ex-paramilitary mastermind that now protects every phase of the multi-billon-dollar operation with well-equipped footsoldiers, tanks, missiles and planes.

Eager to retire these three kingpins, the U.S. Government mobilizes Captain Jake Jeffers to the hot zone. Can one man penetrate the drug lords' massive defenses and turn the tide of jungle war? If he's a Vector for the U.S. black operation OGA-CID, he has a fighting chance.

Minimum System Requirements :
  1. Processor : @ 1.6 Gh
  2. RAM : 512 MB
  3. HDD :2 GB Free
  4. DirectX : Versi 9.0c

Install Note :

  1. Download All Part (Part 1 - Part 5).
  2. Place In One Folder.
  3. Ekstract Part 1, And will extract all part automaticly.
  4. Run "Setup.exe", Going Install to sucess.
  5. Dont Run game or Exit game if have run the game.
  6. Copy "ChromeEngine2.dll" From Crack Folder, Paste the crack file to Teerorist Takedown
  7. Default Installation ~ C:\Program Files\City Interactive\Terrorist Takedown - War in Colombia\
  8. Run Game
  9. Enjoy. Buy It If You Like This Game.


 Terrorist Takedown War In Colombia Full Crack - Indowebster

Terrorist Takedown War In Colombia Full Crack - Indowebster
download games



 
password isalgames

Zombie Nyasar

Hai sobat blogger, setelah saya habis mengelilingi dunia dalam beberapa jam (dunia internet maksudnya) akhirnya saya menemukan zombie berjalan untuk akun blogger sobat. Zoombie ini unik dan sepertinya masih jarang-jarang bloggers memposting ini. Jadi tunggu apalagi selagi masih hangat cobain sekarang. 




Langkah :
  1. Buka akun Blogger Anda
  2. Masuk ke menu edit HTML
  3. Cari kode dibawah ini :
</body>


     4.  Pastekan script kode zoombie yang Anda sukai dibawah ini, pastekan diatas pada kode diatas :


Zombie 1



 <marquee direction='right' scrolldelay='160' style='position:fixed; bottom:10px; left:0; width:100%;'><a href="http://thumber-kreatif.blogspot.com/2013/01/zoombie.html"><img src='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwz7Kf5LrH2E2B9wn36gAz0Vfa3ZpxopG5DeTx03SYOSJzT_rOxIr3hwKQcfzepZG_ZAzKP3XPNgSMVqTSJvOnl_whLKCSPqqmP6lE5Bd-HPQziZODJrwGQjBddR81gkJmbCbiDJ-TgwQ/s120/zombie-1.gif' tyle="border:0; background:none; padding:0; box-shadow: none;"/></a></marquee>


Zombie 2




 <marquee direction='right' scrolldelay='160' style='position:fixed; bottom:10px; left:0; width:100%;'><a href="http://thumber-kreatif.blogspot.com/2013/01/zoombie.html"><img src='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_WkwoW7MFw0QY8qoj-tCwou3nDTuQnOgHA1w6uSW85wvC5DsdbJBwtyA4NqRAyO99ghyphenhyphenI2of1MjiUK-ANJziCSHvjhtzZbxyXKN9X0pwprlBWxmqleCz8WIW_pxako10lHvstZRWLeY0/s100/zombie-2.gif' style='border:0; background:none; padding:0; box-shadow: none; width:80px;'/></a></marquee>


Zombie 3



<marquee direction='right' scrolldelay='160' style='position:fixed; bottom:10px; left:0; width:100%;'><a href="http://thumber-kreatif.blogspot.com/2013/01/zoombie.html"><img src='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3bG60fuJQqQ9_Mc4iNE16Dxnman47EeBwwl1tV8NMV4hECuanDw0kdrkjM-vV-iCkRpvWgS6ImBpGIw9HYswElEhuOt0-XeO65jjgYUUnNJkAsfLjqKuIsWNzKNxa7UM5TwMX8G0Z6Oo/s117/zombie-3.gif' style='border:0; background:none; padding:0; box-shadow: none;'/></a></marquee>

Zombie 4



<marquee direction='right' scrolldelay='160' style='position:fixed; bottom:10px; left:0; width:100%;'><a href="http://thumber-kreatif.blogspot.com/2013/01/zoombie.html"><img src='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgD6AZkiRaK_51Tixduy504VnCa96rTYoxLRi4wxt1oVLVcDoxVCJ1syAM78jZ4HAgS4DAw26W_fMg7PGlvOjkjg2lryIC4QWAkVYW8zkQBLe7cWcbt-slSuMgU4GvUUW_XjT-4vYuj4mQ/s138/zombie-4.gif' style='border:0; background:none; padding:0; box-shadow: none; width:80px;'/></a></marquee>


Zombie 5 




 <marquee direction='right' scrolldelay='260' style='position:fixed; bottom:10px; left:0; width:100%;'><a href="http://thumber-kreatif.blogspot.com/2013/01/zoombie.html"><img src='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitEgdproXRIcJtQrvYydfLq5xcDrW1yl0Qc5xAXST8fFuLFyisVKhIwpHjVXhimzOItZrQdlGAtv9QBWti6LjN6fKfdU1YMH0GwKYpbNu9LXSQiUDpqy7HuwPOWN1pZVpg_YkYKYTpmNg/s148/zombie-5.gif' style='border:0; background:none; padding:0; box-shadow: none; width:70px;'/></a></marquee>



Keterangan :
direction='right' : untuk arah zombie berjalan dari kiri ke kanan.
scrolldelay='260' : kecepatan berjalan zombie
bottom:10px; left:0; width:100%; : letak zombie pada layar monitor
 
 
Terima kasih, semoga bermanfaat.

Sumber : http://ciudadblogger.com

Membuat tombol social media

hay sobat maaf nih baru ngepost lagi karena sibuk terganggu dengan kerjaan bersiin sekolah yang luas hampir 3 hektar -_- ,oke karena saya bingung mau share apa.. :( saya share cara membuat widget tombol social media di blog ya..? :) widget ini mungkin bisa jadi bermanfaat untuk sobat, Dengan memasang widget sosial media pada blog, sobat dapat mengundang pembaca/pengunjung blog untuk terlibat dalam jejaring sosial sobat, dan tentunya dapat meningkatkan reputasi blog sobat. Namun hal itu tak akan terjadi jika pengunjung tidak mengklik tombol follow pada widget jaring sosial sobat, dan mereka hanya akan mengklik atau mengikuti update blog sobat kecuali mereka merasa atau menemukan hal yang berguna dan bermanfaat pada blog sobat. Widget ini tidak otomatis dapat meningkatkan follower blog sobat diberbagai jaring sosial tapi setidaknya kita dapat memancing mereka untuk setidaknya mengklik sekali pada tombol dengan membuat/menampilkan tombol widget ini lebih menarik dan memiliki efek hover yang meluas, mulus dan rapih . Efek hover ini kita buat dengan bantuan CSS3 transisi.

Tidak ada JavaScript. JQuery No. Ini murni CSS
sudah jelas yaa.. :D oke langsung ke caranya.. :)
  1. masuk ke tata letak
  2. Tambah Gadget
  3. pilih HTML / JavaScript
  4. Lalu Masukan Kode Di Bawah Ini..
  5. Simpan.. :)

<style> 

#tbisose{list-style:none; text-decoration:none; font-size:0.9em; font-family:trebuchet ms,sans-serif;} 

#tbisose a{text-decoration:none; font-family:trebuchet ms,sans-serif;} 

#tbisose li{position:relative; height:38px; cursor:pointer; padding: 0 !important;} 

#tbisose .facebook, .googleplus, .pinterest, .rss, .twitter{position:relative; z-index:5; display:block; float:none; margin:10px 0 0; width:210px; height:38px; border-radius:5px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz9Lah1SdbL953dZD1mSPnXHXUrTBtNDOfZKok5GRADHQYqzMX7W8tQO652CgDgqHEl6NI1H4IW6hY6lZQFK5GRunud5mfTgr-Q3ogMkzV7tVc6NAO28KcKrFFgJlhY8Dx5uvBhHiF-uk/s800/sprites.png) no-repeat; background-color:rgba(217,30,118,.42); -webkit-box-shadow:rgba(0,0,0,.28) 0 2px 3px; -moz-box-shadow:rgba(0,0,0,.28) 0 2px 3px; box-shadow:rgba(0,0,0,.28) 0 2px 3px; color:#141414; text-align:left; text-indent:50px; text-shadow:#333 0 1px 0; white-space:nowrap; line-height:32px; -webkit-transition:width .25s ease-in-out,background-color .25s ease-in-out; -moz-transition:width .25s ease-in-out,background-color .25s ease-in-out; -ms-transition:width .25s ease-in-out,background-color .25s ease-in-out; -o-transition:width .25s ease-in-out,background-color .25s ease-in-out; transition:width .25s ease-in-out,background-color .25s ease-in-out; -o-box-shadow:rgba(0,0,0,.28) 0 2px 3px;}
#tbisose li:after{position:absolute; top:0; left:50px; z-index:2; display:block; height:38px; color:#141414; content:attr(data-alt); line-height:32px;} 
#tbisose .icon{overflow:hidden; color:#fafafa;} 
#tbisose .facebook{width:32px; height:32px; background-color:rgba(59,89,152,0.42); background-position:0 0;} 
#tbisose .twitter{width:32px; height:32px; background-color:rgba(64,153,255,0.42); background-position:0 -33px;} 
#tbisose .googleplus{width:32px; height:32px; background-color:rgba(228,69,36,0.42); background-position:-3px -66px;} 
#tbisose .pinterest{width:32px; height:32px; background-color:rgba(174,45,39,0.42); background-position:0 -95px;} 
#tbisose .rss{ width:32px; height:32px; background-color:rgba(255,102,0,0.42); background-position:-3px -126px;} 
#tbisose li:hover .icon, 
.touch #tbisose li .icon{width:210px;} 
.touch #tbisose li .facebook, #tbisose li:hover .facebook{background-color:rgba(59,89,152,1);} 
.touch #tbisose li .twitter, #tbisose li:hover .twitter{background-color:rgba(64,153,255,1);} 
.touch #tbisose li .googleplus, #tbisose li:hover .googleplus{background-color:rgba(228,69,36,1);} 
.touch #tbisose li .pinterest, #tbisose li:hover .pinterest{background-color:rgba(174,45,39,1);} 
.touch #tbisose li .rss, #tbisose li:hover .rss{background-color:rgba(255,102,0,1);} 
</style> 
<ul id="tbisose"> 
<li data-alt="Follow us on Facebook"><a class="icon facebook" href="#">Follow us on Facebook</a></li> 
<li data-alt="Follow us on Twitter"><a class="icon twitter" href="#">Follow us on Twitter</a></li> 
<li data-alt="Follow us on Google+"><a class="icon googleplus" href="#">Follow us on Google+</a></li> 
<li data-alt="Follow us on Pinterest"><a class="icon pinterest" href="#">Follow us on Pinterest</a></li> 
<li data-alt="Subscribe with RSS"><a class="icon rss" href="#">Subscribe with RSS</a></li> 
</ul>
<small><div style="font-size:80%; text-align:right; text-shadow:2px 2px 2px #adadad;"><a href="http://thumber-kreatif.blogspot.com/2013/07/cara-membuat-tombol-social-media-super-keren-di-blog.html" target="_blank" title="Widget Follow Us">+ Get This Widget Here</a></div></small>

Keterangan :
  • Kode yang berwarna Orange, ganti dengan masing-masing alamat social media sobat..
nanti hasilnya akan seperti ini.. :)

Cara Membuat Tombol Social Media Keren Di Blog

bagaimana keren gak..? :D ,silahkan di coba.. :) jangan lupa tinggalkan jejak di komentar.. terima kasih.. :)

Header Uji Coba

Ini Masih Rencana, Kalo teman2 saya bilang bagus saya pakai!!!!!

Follow Email Pop Out Widget Blogger

Sebenarnya ini adalah sebuah Plugin Untuk Wordpress. Tapi sekarang tersedia untuk Blog Blogger. Widget ini adalah widget Berbasis Jquery dengan efek popout yang bagus dan halus. Anda akan mendapatkan lebih banyak pelanggan email dengan widget ini dan Sangat mudah untuk Instal di Blog Anda.

Seperti widget ini berdasarkan jQuery plugin, Pertama anda harus memiliki Plugin jQuery dalam template Blog Anda.
Langkah ini adalah Diperlukan, Jika Blog anda sudah memiliki plugin ini maka Abaikan Langkah ini.
Jika Blog Anda Tidak memiliki Plugin ini, Instal Plugin jQuery. Tambahkan baris di bawah ini sebelum kode tag </head>.
<script src="https://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.7.1/jquery.min.js"></script>
  1. Langkah instal script popout masukan 2 kode berikut sebelum tag </head>

    <div id="drilmfollowSubscribe" style="display:none;">
        <div class="drilmfollowForm">
            <a class="drilmfollowButton" href="#" title="Follow"><span>Follow</span></a>
            <h3>Follow "<data:blog.title/>"</h3>
            <p>Post gratis Instan langsung masuk ke kotak Email</p>
            <form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" target="popupwindow" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=donorilmu', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true">
                <input type="text" class="emailInput" name="email" placeholder="Enter Email Anda..."/>
                <input type="hidden" value="DonorIlmu" name="uri"/>
                <input type="hidden" name="loc" value="en_US"/>
                <input type="submit" value="Berlanggan" class="emailSubmit"/>
            </form>
            <p class="drilmFollowFooter">
                <a href="http://feedburner.google.com" target="_blank">Delivered by FeedBurner</a>
            </p>
        </div>
    </div>
    Teks yang berwarna biru anda ganti dengan ID Feedburner anda.
Selanjutnya klik Simpan Template
 

Cara Memilih SPBU dan Mengisi Bensin yang benar

Bensin naik lagi ya??? T_T
Berikut ini saya berikan tips buat isi di Pom Bensin yang bagus biar gak bingung:
sumber : forum-vixion.com
sumber : forum-vixion.com
1. LEBIH BAIK ISI DI POM BENSIN PERTAMINA KODE 31 atau (Angka Kedua 1)
Tiap pom bensin memiliki kode depan masing-masing..dimana anda bisa mengetahuinya ?
Berikut ini saya berikan tips buat isi di Pom Bensin yang bagus:Pernah memperhatikan plang nama besar saat menuju ke SPBU? Di wilayah Jakarta dan sekitarnya tertera huruf 31.XXXXX atau 34.XXXXX. itu bukan kode buntut. Huruf awal pertama menandakan kode wilayah . Sedang angka kedua mengandung arti kepemilikan.
Kepala 3 berarti SPBU berdomisili di Jakarta Jawa Barat, Banten dan sekitarnya. Kalo kepala 5 kayaknya Surabaya.
Digit kedua, jika angka 1 berarti kepemilikan Pertamina sendiri. Sedangkan angka 4 berarti kepemilikan swasta atau dealer..jadi yang penting angka keduanya 1 gak masalah berapapun angka pertamanya karena itu kode wilayah .
Karena, sebenarnya ada tiga kategori SPBU. Pertama COCO alias corporate owner corporate operate, CODO yakni corporate owner dealer operate. Terakhir DODO, dealer owner dealer operate. Ini berdasar pada situs spbu.pertamina.com
Karena dikendalikan oleh pertamina, maka kualitas SPBU model COCO dan CODO diyakini lebih baik dibanding DODO. Tanpa bermaksud menyamaratakan, di sisi bisnis bisa dimengerti, karena ingin cepat balik modal, pengusaha jadi berlaku curang. kalo saya sih nyaranin ngisi bensin sebaiknya di SPBU yang milik Pertamina (angka keduanya 1) karena quality control-nya cukup bagus..
saya denger2 juga dari supir taksi dan orang2 yang telah pengalaman ngecek pas ngisi bensin katanya yang kode 31 (Angka Kedua 1)takarannya sesuai sedangkan yang 34 agak berbeda meskipun punya tanda “PASTI PAS”.
Menurut banyak orang juga kode pertamina 31 (Angka Kedua 1)ternyata paling baik(kualitas bensin) dibanding denanda yang kode 34.
cara buktiinya:
coba bagi anda yang menggunakan mobil/ motor matic, pastinya akan terasa tarikan mobilnya .jika mengisi bensin di pertamina dengan tanda kode 31 (Angka Kedua 1)akan terasa tarikan mobilnya lebih kencang dan tidak terlalu kotor dibanding dengan tanda pom dengan tanda kode lainnya
Coba anda bandingkan jumlah mobil/ motor yang ngisi bensin di pom bensin tersebut,,,di pom bensin kode 31(Angka Kedua 1) pasti sangat ramai sedangkan yang kode 34 agak cenderung sepi..ini udah saya buktikan sendiri.
Coba anda ngisi 1 Liter bensin di Pom bensin 31 (Angka Kedua 1)dan pom bensin 34..bandingkan aja dari sisi kualitas (mesin lebih enak) maupun kuantitasnya (yang mana yang lebih cepat habis)..
coba anda tanya sama supir angkot atau supir taksi dimana pom bensin yang bagus, pasti sebagian besar mereka jawab di pom bensin 31 (Angka Kedua 1)karena mereka juga banyak ngisi di pom bensin 31
Kalo gak percaya bisa dibuktikan sendiri anda…tapi gak semua 34 juga yang kaya begitu
2. TIAP ISI BENSIN MINTA KEPADA PETUGASNYA TUAS HANDLE SELANG JANGAN DITEKAN TAPI DILEPAS AJA WAKTU DITARUH DI TANGKI KITA
Pernah gak anda sewaktu ngisi bensin, tuasa handle ditekan2 begitu sama petugasnya? pasti pernah lah nemuinnya…kenapa begitu? karena banyak oknum yang nakal denanda cara memainkan takaran bensin dengan tanda cara seperti itu sehingga jumlah bensin yang kita isi lebih sedikit dari apa yang seharusnya..
Pengalaman saya ngisi di pom bensin kode 31 (Angka Kedua 1), petugas gak pernah menekan-nekan tuas handle selang sewaktu mengisi sedangkan di kode 34 liat aja deh…kalo anda sewaktu ngisi bensin digituin, petugasnya ditegur aja..
3.ISILAH BENSIN WAKTU HARI MASIH PAGI KETIKA TEMPERATUR TANAH MASIH DINGIN
Ingat bahwa semua SPBU mempunyai tanki penyimpanan di bawah tanah.Semakin dingin tanahnya maka semakin padat/kental bahan bakarnya. Jika temperatur mulai panas/hangat, maka bahan bakarnya akan mengembang.
Jadi jika membeli bahan bakar pada siang hari atau petang hari..sebenarnya bahan bakar yang diisikan ke dalam tanki kendaraan anda jelas lebih sedikit dibanding jumlah liter yang anda beli.Dalam bisnis perminyakan, gravity yang spesifik dan temperatur bensin, diesel dan bahan bakar pesawat jet, ethanol dan produk minyak lainnya punya peranan penting. Kenaikan 1 derajat merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam business ini. Tetapi SPBU tidak memberikan anda rugi/kompensasi karena temperatur
4.ISI BENSIN SAAT TANKI KENDARAAN ANDA MASIH SETENGAH PENUH.
Alasannya adalah semakin banyak bahan bakar yang ada di tanki kendaraan, maka semakin sedikit udara yang ada di bagian tanki yang kosong. Bensin menguap lebih cepat dari pada yang bisa kita bayangkan. Dalam bisnis perminyakan biasanya tanki penyimpanan bensin mempunyai apa yang kita sebut atap yang mengapung (floating roof) yang berfungsi sebagai clearance zero antara bensin dan atmosfer sehingga penguapannya bisa dikurangi.,tetapi hal itu tidak terdapat di SPBU.
5.JANGAN ISI BENSIN JIKA ADA TRUK BAHAN BAKAR SEDANG MENGISI TANKI PENYIMPANAN
Hampir pasti bensin/solar akan teraduk saat bahan bakar dipompakan dari truck ke tanki penyimpanan SPBU, dan kemungkinannya akan ada kotoran di dasar tanki penyimpanan yang teraduk naik dan terikut masuk ke tanki kendaraan anda.

Sumber : http://faktakriminal.blogspot.com/2012/09/tips-memilih-pom-bensin-dan-mengisi_20.html

About Me

Nama Lengkap     : Ferdi Ferdian
Nama Panggilan    : Ferdi
Tmp/Tgl. Lahir      : Perawang/ 22 feb 1997
Alamat                  : Jl. SMA 1 no. 01 , Perawang , Riau (72882)
Kelas                    : XI KR 1
Sekolah                 : SMK YAMATU

Facebook : Ferdi ferdyan ( klik disini buat add gue )
EmaiL! : ferdi_ferdyan@rocketmail.com
No.HP : 082387910290 (SMS aja lah klw ada waktu luang) :D
Prestasi Gue dalam nge-Blog :


SUDAH SIAP???

“Ramadhan Telah Tiba”. Sekelumit kata yang kadang banyak diantara kita yang beraneka ragam dalam menyikapinya. Diantara kita ada yang mengatakan:

A: Wah… Alhamdulillah Ramadhan sudah dekat, aduh senangnya aku…
B: Ooohh… dah mo Ramadhan lagi? Gak ngrasa ane, ya sudahlah jalani aja…
C. Eit dah! Ampuuunn… besok dah mau Ramadhan, waduh..puasa lagi.. ah gk seru..

Sekilas memang kalau kita jujur tentu kita banyak yang terjebak digolongan orang yang ke-2. Yang melihat ramadhan hanya sebatas untuk rutinitas puasa belaka, tidak ada yang special dalam menyambutnya, dan bahkanna’udzubillah jika kita malah tidak senang, benci dengan hadirnya bulan suci Ramadhan.

Ketahuilah wahai saudaraku….
Bulan Ramadhan adalah bulan yang terlalu banyak kelebihannya. Di dalamnya terdapatnya malam lailatul Qadar yaitu malam kemuliaan yang lebih baik dari 1000 bulan. Pada bulan tersebut Allah membuka pintu syurga, menutup pintu neraka dan mengikat syaitan-syaitan untuk memberi peluang kepada manusia membersihkan diri mereka sebersih-bersihnya. Amal-amal ibadah dan kebajikan digandakan Allah di mana yang sunat diberi pahala wajib/fardhu dan yang fardhu menyamai 70 fardhu di bulan-bulan yang lain. Amat banyak kelebihan bulan Ramadhan yang kesemuanya insya Allah akan kita bentangkan satu persatu dalam risalah kecil ini.

Sekarang ini kita berada di bulan Sya’ban. Inilah masanya kita menanam ‘azam untuk kita merebut segala kelebihan Ramadhan yang dijanjikan Allah. Jika Ramadhan tahun lalu kita lalai sehingga tanpa disadari Ramadhan tiba-tiba berlalu begitu saja dan kita ketinggalan merebut kelebihannya, maka pada tahun ini kita diberi peluang sekali lagi oleh Allah. Maka janganlah sia-siakan peluang kali ini karena mungkin jadi inilah Ramadhan terakhir buat kita. Kematian datang tidak menentu. Oleh itu, hendaklah kita senantiasa bersedia dan siap siaga. Rebutlah peluang semasa hayat masih ada ini supaya di akhirat kita tidak menyesal dengan sesalan yang tiada gunanya lagi.

Mumpung Allah masih memberi kesempatan tersebut, maka mari kita siapkan diri kita untuk menjemput dan menyambut bulan suci Ramadhan dengan amalan-amalan yang baik nan bermanfaat.
Berikut beberapa amalan yang pantas kita persiapkan menjelang datangnya Ramadhan:

1, Kenali Ramadhan dengan baik

Tak kenal maka tak saying, begitulah kira-kira ungkapan yang pas agar kita lebih mengenal tentang bulan Ramadhan. Kenali ramadhan dengan baik, apa dan bagaimana ramadhan itu, agar kita semakin senang saat sudah masuk didalamnya. Dan sedih saat kita harus pisah darinya.

2, Membaca kembali kelebihan-kelebihan bulan Ramadhan

Setelah kita mengenal dan akrab dengan bulan Ramadhan, maka kewajiban kita adalah mengetahui secara pasti dan terperinci tentang kelebihan-kelebihan yang ada dalam bulan Ramadhan, agar kita dapat menggapai kelebihan-kelebihan tersebut saat kita didalamnya dan tidak menyesal saat kita tidak mendapatkannya selain di bulan Ramadhan.

3, Perbaiki hubungan dengan Allah melalui taubat nashuha

Jikalah kita mengatakan bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka layakkah kita menyambutnya dengan hati dan raga yang tidak suci? Maka sebelum kita memasuki bulan suci tersebut, mari kita sucikan diri kita, kita sucikan hati kita dari segala hal yang dapat merusak dan mengotori kesucian bulan Ramadhan, segeralah kita bertaubat kepada Allah dari segala dosa, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.

4, Perbaiki hubungan dengan sesama

Salah satu cara kita untuk mensucikan diri sebelum datangnya bulan suci Ramadhan adalah dengan memperbaiki hubungan kita kepada sesame, khususnya dari orang-ornag yang terdekat dengan kita. Sebab bisa jadi mereka yang teraniaya/terdholimi oleh perbuatan kita malah menghambat doa dan permintaan kita selama Ramadhan.

5, Siapkan Al-Quran

Sudahkah kita mempersiapkan al Quran? Berapa kali khatamkah rencana kita selama Ramadhan? Atau berapa lembar/juzkah dalam sehari? Yah.. semua itu perlu kita persiapkan saat ini juga. Jika al Quran masih belum punya, so tunggu apa lagi? Beli dan baca mulai dari sekarang juga.

6, Bayar hutang puasa tahun lalu

Masihkan kita punya hutang puasa Ramadhan tahun lalu? Jika masih ada, apa yang kita tunggu? Segera kita selesaikan segala hutang-hutang kita, baik hutang materi, hutang puasa dst. Sehingga hal tersebut tidak menambah beban bagi kita saat kita masuk bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini.

7, Siapkan budget lebih untuk sedekah puasa

Yups, ini sangat penting sekali. Jangan sampai kita lengah untuk menyisihkan sebagian harga kita saat bulan Ramadhan. Meski hanya seribu/dua ribu namun hal tersebut akan bernilai besar jika kita menginfakkan dan menyedekahkannya dibulan suci Ramadhan. Mari kita sisihkan sebagian upah kita untuk persiapan nanti saat tiba waktunya Ramadhan.

8, Jaga kesehatan, karena puasa dan Qiyamul Lail membutuhkan kesehatan fisik.

Dan persiapan yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kesehatan mulai saat ini juga, jangan sampai kita jatuh sakit sehingga Ramadhan kita terganggu dengan sakit tersebut yang menyebabkan kita tidak sanggup untuk beribadah dengan maksimal.

Demikianlah beberapa amalan dan tips agar kita maksimal dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Ingat.. Ramadhan telah tiba, apa yang telah kita siapkan?



Sumber : Artikel: www.solusiislam.com

Masturbasi

 
Mengapa dalam postingan kali ini tidak ada gambarnya? Karena postingan kali ini menyangkut tentang hal-hal yang berbau seks. Jadi tidak etos jika dalam postingan kali ini tidak memakai gambar, karena kita ini orang timur yang penuh dengan adat-isti adat dan peraturan.

Jika ingin mencari gambar tentang masturbasi, bisa dilihat sendiri saja di google image atau klik link di samping ini [link]

Berikut inilah postingan tentang masturbasi yang aku ambil dari catatan atau notes dari salah satu kakak pembimbing (lebih tepatnya salah satu staf siswa Perkantas Solo) yang bernama kak Gunawan Sri Haryono atau dipanggil saja dengan kak Gun.


Masturbasi adalah upaya menyalurkan rangsangan seksual pada diri sendiri untuk mendapatkan kepuasan seksual atau orgasme.

John White dalam buku Menebus Eros merumuskan, "manipulasi ragawi untuk mengejar orgasme."

BANYAK YANG MELAKUKAN

Sangat banyak orang yang melakukan masturbasi., termasuk diri saya. Pelakunya meliputi pria dan wanita. Sekalipun menurut banyak orang, lebih banyak pria yang melakukan masturbasi , namun jumlah wanita yang melakukan masturbasi juga semakin meningkat.

Tindakan ini bukan hanya dilakukan oleh para remaja yang sedang mengalami puber, tetapi juga orang-orang dewasa hingga tua. Dan bukan hanya yang melajang, namun juga orang-orang yang berada dalam ikatan pernikahan.

Jadi, kalau anda juga melakukannya, anda tidak sendirian.

RASA MALU

Dalam waktu-waktu yang terakhir, banyak orang yang mengatakan bahwa masturbasi adalah hal yang normal. Sebab di dalamnya tidak ada bahaya yang mengancam kesehatan fisik dan tidak ada kerugian sosial.

Akan tetapi tidak bisa dipungkiri banyak orang merasa malu dengan aktivitas masturbasi yang dilakukan. Misalkan seorang teman bertanya kepada teman lainnya, "Gimana tadi malam dengan istri, bro?" Teman akan menjawab, " Sip menyenangkan." Tetapi bagaimana kalau teman tersebut menanyakan demikian "Bagaimana masturbasi tadi malam, bro?" Rasanya teman lain tadi akan malu untuk membagikannya.

Memang ada sekelompok orang yang melakukan masturbasi secara terbuka, namun itu bukan kelompok kehidupan yang umum.

Orang merasa malu, karena menyadari bahwa  bermasturbasi bukanlah aktivitas seksual yang normal. Dan karenanya orang akan enggan juga untuk membagikan kepada orang lain aktivitas itu. Dalam perkumpulan, orang bisa saling membagikan aktivitas seksual mereka dengan pasangan, dan mungkin saling membagikan bagaimana meningkatkan relasi seksual itu. Akan tetapi orang akan sulit saling membagikan aktivitas masturbasi mereka , apalagi membagikan dengan tujuan untuk menemukan cara masturbasi yang lebih memuaskan.

MENGAPA MASTURBASI TIDAK TEPAT ?

Masturbasi memusatkan pada diri sendiri.

Masturbasi dilakukan untuk mencari kesenangan sendiri. Sementara seks adalah relasi yang bertujuan untuk mengungkapkan perhatian dan kasih kepada orang lain. Seks bukan semata-mata untuk mendapatkan orgasme, tetapi untuk memuaskan pasangan, untuk mengenal pasangan kita, dan untuk menunjukkan apa-adanya diri kita kepada pasangan. Karena itu upaya untuk mendapatkan kesenangan untuk diri sendiri adalah satu tindakan yang tidak tepat.

Masturbasi lorong menuju relasi seksual tidak sehat.

Ketika orang bermasturbasi biasanya dia berfantasi melakukan hubungan dengan seseorang. Kalau seseorang itu nyata, maka dia akan terus memikirkan orang tersebut. Dan setiap kali bertemu dengan orang itu dia akan mudah sekali untuk menginginkan melakukan hubungan dengan orang tersebut. Apabila seorang mahasiswi berfantasi melakukan hubungan dengan pacarnya, maka hasrat untuk melakukan secara nyata akan menggebu-gebu. Selain itu, melakukan masturbasi akan membuat mudah untuk mencoba berhubungan dengan siapapun yang mungkin. Bahkan tidak menutup kemungkinan akhirnya menyalurkan dengan cara membayar.

Masturbasi membuat tubuh digunakan untuk maksud yang keliru

Tuhan mendesain tubuh kita untuk kemuliaan-Nya, namun dengan bermasturbasi kita menggunakan tubuh untuk sekedar mencari kesenangan.

Masturbasi mengasingkan diri dari pasangan

Seorang suami dan isteri yang bermasturbasi akan menjauhkan dirinya dari pasangannya, dia akan asyik dengan dirinya sendiri. Dan jika masturbasi itu membawa kepada khayalan yang bermacam-macam, maka makin jauhlah dia dari pasangannya. Lama kelamaan pasangannya  bisa menjadi sosok yang asing. Rencana Tuhan bahwa aktivitas seksual adalah untuk mengenal pasangan lebih dalam akan runtuh.

Masturbasi itu membelenggu

Ada orang yang mengatakan bahwa dia bisa berhenti kapan saja dalam bermasturbasi. Namun lebih banyak orang yang tidak mampu menghentikan aktivitas itu. Orang tenggelam dalam dorongan untuk melakukan itu terus menerus, sekalipun mungkin dengan frekuensi yang berbeda-beda.

APAKAH ADA PERTOLONGAN ?

Saya mengenal masturbasi sejak masih kecil. Saya lupa tepatnya usia saya waktu itu. Akan tetapi itu dimulai ketika saya memanjat pohon dan menikmati keenakan ketika alat kelamin saya menggesek-gesek batang pohon tersebut. Saya belum mengenal apa itu masturbasi. Saya "menemukan" keenakan itu secara tidak sengaja. Dan karena enak itu saya sering mengulanginya.

Dan kegiatan menggesek alat kelamin itu berpindah ke tempat tidur. Dan demikianlah seterusnya menjadi kebiasaan sehari-hari. Tidak tahu kapan juga,  aktivitas itu kemudian dilakukan dengan berfantasi.

Dengan ditambah aktivitas membaca buku-buku stensilan (istilah buku porno waktu itu), fantasi ketika bermasturbasi makin hebat.

Saya merasa bersalah dengan aktivitas tersebut. Saya ingin berhenti, namun tidak sanggup. Saya juga tidak pernah membicarakan itu dengan teman-teman, sekalipun banyak teman sering saling ledek dengan istilah-istilah masturbasi (misal menggunakan istilah "nyabun"). Dan dengan demikian saya mengerti bahwa banyak teman juga melakukannya.

Saya menyimpan kesusahan itu sendiri.

Pertolongan itu datang ketika pada saat liburan naik kelas 3 SMA. Dalam liburan itu saya mengikuti acara satu perkumpulan siswa-siswa, dan di dalamnya saya menemukan kasih Tuhan. Dalam acara itu saya mendapat pengertian bahwa Tuhan Allah sangat mengasihi saya, dan bahkan Ia datang ke dunia untuk mati bagi saya. Sebagai manusia saya telah berdosa, dan karenanya tenggelam dalam dosa itu, termasuk di antaranya saya bermasturbasi.

Saya ditolong mengerti bahwa jika saya mau menerima Tuhan Allah yang sudah mati dan kemudian bangkit itu maka saya mendapatkan pengampunan dosa, kemenangan dari dosa, dan kepastian keselamatan.

Tanggal 22 juni 1982 saya berlutut dan berdoa, " Tuhan Yesus, saya orang yang berdosa, saya mati secara rohani. Saya percaya Engkau sudah mati di atas kayu salib untuk menggantikan saya dan untuk melepaskan saya dari dosa. Hari ini saya membuka hati saya dan mengundang Tuhan Yesus masuk dalam hati saya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saya. Terima kasih Tuhan. Amin"

Tidak terjadi apa-apa setelah berdoa, akan tetapi satu keyakinan baru muncul. Saya telah diampuni dan saya telah dilepaskan dan diberi keselamatan. Saya pulang dan saya berkemenangan atas kebiasaan masturbasi. Satu anugerah yang besar.

Apakah tidak pernah gagal? Tentu pernah, tapi bukan lagi kebiasaan seperti dulu. Tapi setelah beberapa kali kegagalan, lalu merdeka seterusnya.

MENGAPA SETELAH MENERIMA TUHAN MASIH GAGAL ?

Tidak sedikit yang berseru, "Saya telah menerima Tuhan, tapi saya masih gagal. Saya masih bermasturbasi. bagaimana saya bisa lepas?" Jawabannya sama : Tuhan sanggup menolong. Namun Tuhan menolong dengan cara yang khas.
1. Terus doakan hal tersebut. Minta Tuhan melepaskan oleh kuasa dan anugerahNya.
2. Pastikan sumber-sumber percobaan telah dibuang. Gambar, buku, film porno telah ditiadakan.
3. Tunggu satu waktu Tuhan akan mengajar secara pribadi bagaiman itu akan lepas, setelah anda tekun mendoakannya.
4. Kalau sudah tekun tapi belum lepas, mungkin Tuhan sedang fokus kepada bagian "penyakit dosa" lain yang sedang dibersihkannya.
5. Baik, kalau membagikan kepada teman atau pemimpin rohani untuk pergumulan itu.

Seorang mahasisiwi memiliki kebiasaan itu, hampir tiap malam memeluk guling supaya orgasme. Dia merasa malu, namun dia mau membagikan itu kepada pemimpin rohaninya. Lalu bersama-sama membawa kepada Tuhan dan mulai mengambil langkah-langkah yang perlu.

Setelah beberapa waktu, Tuhan berbicara kepadanya dan sejak itu dia melepaskan kebiasaan itu.

Jadi jika ada yang sudah menerima Tuhan masih belum bebas, mari tekun membawa kepada Tuhan, pada waktunya Tuhan akan melepaskannya.

Tulisan ini banyak diambil dari Buku MENEBUS EROS, John White, terbitan PPA (Persekutuan Pembaca Alkitab)

Menari Semua

Pageviews

Label

Followers

Recent Comment

Hak setiap isi sudah di sahkan oleh Undang-Undang. Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

i

Label

Recent Comments

VIP

VIP

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

Popular Posts

Pengikut