Disclaimer: DN LABB oleh Nisio Isin, ini hanya fan-translate dan tidak untuk diperjual belikan.
Dilarang keras memposting ulang terjemahan ini tanpa mengikut sertakan kredit penerjemah dan link asli blog (
http://www.intanchan.wordpress.com). Menerjemahkan itu tidak mudah, mohon dihargai ^^
Translated by Azca Sky
Edited by Shiazen
Halaman 2: Ryuzaki
L telah dimusuhi oleh para detektif lain, dan beberapa yang iri
padanya memanggilnya detektif pertapa, atau detektif komputer, namun tak
satupun akurat untuk menggambarkan kenyataannya. Naomi Misora juga
telah cenderung untuk berpikir bahwa L adalah detektif yang selalu duduk
di kursi, namun nyatanya, L adalah kebalikannya, seorang individu yang
aktif dan agresif. Meskipun ia sama sekali tidak tertarik pada pergaulan
sosial, yang pasti ia juga bukan jenis detektif yang mengunci dirinya
sendiri di ruangan gelap berbayang-bayang dan menolak untuk keluar.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebenarnya perang detektif hebat, L,
Eraldo Coil, dan Danueve sebenarnya adalah orang yang sama.
Bisa dipastikan, siapapun yang membaca catatan ini hampir pasti tahu…
meskipun mereka mungkin tidak tahu bahwa L mengalami perang dengan
Eraldo Coil asli dan Danueve asli, dan membuktikan kemenangan,
(mengklaim kode detektif mereka. Detail dari perang detektif ini akan
kusimpan untuk saat yang lain, tapi termasuk tiga nama itu, L memiliki
banyak kode detektif lainnya. Aku tidak tahu berapa banyak, tetapi
paling tidak ada sekitar tiga digit. Dan banyak dari mereka adalah
detektif terkenal – misalnya, seperti siapapun yang membaca catatan ini
pasti tahu, ia muncul di hadapan Kira, memanggil dirinya sendiri Ryuzaki
atau Ryuga Hideki.) Tentu saja, Naomi Misora tidak akan mungkin tahu
mengenai ini, namun menurut pendapatku, nama L adalah, untuknya, hanya
satu dari sekian banyak nama lain. Ia tidak pernah memiliki satu pun
hubungan langsung pada identitas itu. Ia tidak pernah berpikir dirinya
sendiri sebagai L, itu hanyalah nama yang paling terkenal dan berkuasa
dari banyak kode detektif yang telah ia gunakan seumur hidupnya. Nama
itu memiliki kegunaannya, namun kurang misterius. L memiliki sebuah nama
asli yang tidak seorang pun mengetahuinya, dan tidak akan pernah, tapi
sebuah nama yang ia tahu tidak pernah mendefinisikannya. Aku terkadang
ingin tahu jika L sendiri pernah mengetahui tepatnya nama yang mana yang
telah ditulis dalam Death Note, yang mana yang telah membunuhnya.
Aku ingin tahu.
Tapi kembali ke kasus pembunuhan BB Los Angeles.
“Ryuzaki…” ucap Naomi Misora, melihat kartu nama hitam yang telah
diberikan padanya tanpa repot-repot menyembunyikan kecurigaannya. “Rue
Ryuzaki, benar, kan?”
“Ya. Rue Ryuzaki,” jawab pria itu, dalam nada tak terganggu yang
sama. Matanya yang lebar menatap menembus lingkaran hitam di
sekelilingnya, dan ia menghisap ibu jarinya.
Mereka telah keluar dari kamar tidur ke dalam ruang tamu rumah
Believe Bridesmaid. Mereka duduk berhadapan pada sofa yang mahal.
Ryuzaki duduk dengan lutut ditarik ke atas dan lengan yang mendekapnya.
Misora pikir ini terlihat sedikit kekanak-kanakan, namun karena Ryuzaki
jelas-jelas bukan anak kecil, ini terlihat sedikit mengerikan. Fakta
bahwa ia tidak bisa memberi komentar kepada Ryuzaki, itu semua karena ia
sudah terlalu dewasa. Untuk mencairkan suasana diam yang canggung,
Misora menunduk pada kartu itu lagi—Rue Ryuzaki: Detektif.
“Menurut kartu ini, kau adalah seorang detektif?”
“Ya, benar,”
“Maksudmu… seorang detektif pribadi?”
“Tidak, istilah itu tidak begitu tepat. Saya merasa kata ‘pribadi’
membawa egoisme berlebihan… anda bisa menyebut saya seorang detektif
non-pribadi—detektif tanpa ego.”
“Begitu, ya…”
Dengan kata lain, ia tidak memiliki lisensi.
Jika ia membawa pulpen, ia pasti sudah menuliskan “idiot” pada
kartunya, tapi sayangnya, tidak ada alat tulis yang bisa diraih, jadi ia
memutuskan untuk meletakkannya di meja sejauh mungkin darinya, seolah
itu benda yang menjijikkan.
“Jadi, Ryuzaki… kalau boleh kutanya lagi, apa yang sedang kau lakukan di bawah sana?”
“Sama dengan anda. Menyelidiki,” jawab Ryuzaki, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
Mata bertepi-hitamnya tidak pernah berkedip. Lebih seperti tidak tenang.
“Saya disewa oleh orangtua pemilik rumah ini—oleh orang tua Tuan
Bridesmaid, dan saat ini saya sedang melakukan penyelidikan pembunuhan.
Sepertinya anda ada di sini untuk alasan yang sama, Misora.”
Pada titik ini Misora tidak peduli lagi siapa Ryuzaki ini—detektif
pribadi atau non-pribadi, yang jelas ia tidak ingin terlibat dengannya.
Satu-satunya yang menjadi masalah adalah berapa banyak percakapannya
yang telah didengar dari kolong tempat tidur… yang dalam skenario
terburuk dapat mempengaruhi karir masa depannya. Jika informasi apapun
mengenai L yang misterius dipublikasikan karenanya, ia akan harus
melakukan lebih dari sekedar mengundurkan diri. Ia telah memulai topik
ini dengan baik, dan ia telah menganggap tempat tidur telah menyamarkan
suaranya sehingga Ryuzaki tidak bisa menangkap apa yang ia katakan
dengan jelas, namun ini bukanlah sesuatu yang dapat ia percayai dengan
mudah,
“Ya… Aku juga seorang detektif,” kata Misora, merasakan bahwa ia
tidak punya pilihan lain. Jika ia tidak sedang cuti, pasti ia sudah
mengaku sebagai agen FBI, namun karena sedang cuti, ia tidak mau
membahayakan diri jika ada yang ingin melihat lencananya. Tampaknya
lebih aman untuk berbohong—lagipula, ada kemungkinan bahwa Ryuzaki juga
sedang berbohong. Ia tidak perlu merasa bersalah sama sekali.
“Aku tidak bisa mengatakan padamu kepada siapa aku bekerja, tapi aku
sudah diminta untuk menyelidiki secara diam-diam. Untuk menemukan siapa
yang telah membunuh Believe Bridesmaid, Quarter Queen, dan Backyard
Bottomslash…”
“Benarkah? Kalau begitu kita bisa saling membantu!” katanya segera.
Kegelisahannya pada saat ini secara aneh menjadi lega.
“Jadi, Ryuzaki. Apakah kau menemukan sesuatu di bawah kasur yang
mungkin berguna dalam menyelesaikan kasus ini? Kukira kau tadi sedang
mencari apapun yang mungkin ditinggalkan sang pembunuh, tapi…”
“Bukan, bukan begitu. Saya mendengar seseorang memasuki rumah, jadi
saya memutuskan untuk sembunyi dan mengamati situasi. Setelah beberapa
saat tampak jelas bahwa anda bukan orang yang berbahaya, jadi saya
keluar.”
“Orang yang berbahaya?”
“Ya. Contohnya, pembunuh itu sendiri, kembali untuk mengambil sesuatu
yang ia lupakan. Jika memang benar begitu, maka sungguh kesempatan
bagus! Tapi sepertinya harapan saya sia-sia.”
Pembohong.
Ia bisa mencium kebohongan itu.
Misora sekarang hampir teryakinkan bahwa ia telah bersembunyi di
bawah sana untuk mendengarkan percakapannya dengan L. Di situasi yang
lain, ini mungkin hanya paranoia belaka, tapi orang bernama Ryuzaki ini
bukanlah orang biasa.
Tidak ada bagian dari dirinya yang tidak mencurigakan.
“Bagaimanapun, saya bertemu dengan anda sebagai gantinya, jadi itu
tidak benar-benar mengecewakan. Ini bukan novel atau komik, jadi tidak
ada alasan untuk sesama rekan detektif memandang rendah satu sama lain.
Bagaimana menurutmu, Misora? Setuju untuk bertukar informasi?”
“Tidak. Terimakasih atas usulnya, tapi aku harus menolak. Aku
memiliki tugas untuk menjaganya tetap rahasia,” balas Misora. L telah
memberikan padanya semua tentang kasus yang bisa didapatkan siapa
saja—tampaknya ia tidak akan mendapat informasi apapun dari seorang
detektif pribadi tidak berpengalaman. Dan tentu saja, ia tidak berniat
memberikan apapun padanya. “Aku yakin kau juga memiliki rahasiamu
sendiri.”
“Tidak.”
“Tentu saja kau punya. Kau seorang detektif.”
“Oh? Kalau begitu aku punya.”
Fleksibel.
Keduanya tampak baik-baik saja untuknya.
“Tapi menurutku menyelesaikan kasus harus diprioritaskan… Baiklah,
Misora. Bagaimana kalau begini: saya akan menyediakan segala informasi
yang saya punya padamu tanpa imbalan.”
“Eh…? Uh, aku tidak mungkin…”
“Tolong. Sebenarnya, tidak penting apakah saya atau anda yang
memecahkan kasusnya. Harapan klienku adalah untuk melihat kasusnya
terpecahkan. Jika anda memiliki pikiran yang lebih tajam dariku, maka
memberitahumu segalanya akan jadi lebih efektif.”
Semua itu terdengar manis, tapi ia tidak mungkin bersungguh-sungguh,
jadi kewaspadaan Misora akan Ryuzaki tumbuh lebih tajam. Apa yang
diinginkannya? Beberapa menit yang lalu ia telah mengarang sebuah
kebohongan, mengaku bahwa ia berpikir dirinya mungkin adalah pembunuh
yang kembali ke tempat kejadian, tapi teori itu tampak jauh lebih cocok
untuk pria yang bersembunyi di bawah kasur daripada ia.
“Anda boleh memutuskan untuk memberiku informasimu atau tidak
sesudahnya. Jadi, pertama, ini,” kata Ryuzaki, menarik lipatan kertas
dari saku
jeans-nya. Ia memberikannya pada Misora,
tanpa repot membukanya dulu. Misora mengambilnya, dan membukanya dengan
ragu. . itu adalah teka-teki silang. Sebuah rangkaian kotak-kotak, dan
petunjuk dalam huruf-huruf kecil. Misora memiliki firasat tentang benda
apa ini.
“Ini adalah…”
“Oh? Kau tahu tentang itu?”
“Tidak… tidak secara langsung.” ia tergagap, tidak yakin harus
bagaimana harus bereaksi. Terlihat jelas bahwa ini adalah teka-teki
silang yang sama dengan yang telah dikirim ke Kepolisian LA tanggal 22
Juli, tapi L mengatakan bahwa teka-teki yang asli sudah dibuang, jadi
apakah ini salinan? Bagaimana pria ini… bagaimana Ryuzaki dapat
berjalan-jalan dengan benda ini terlipat di kantongnya? Ketika ia
berpikir dengan marah, Ryuzaki memandangnya dengan tatapan penuh
penilaian. Seakan ia sedang menguji kemampuannya berdasarkan reaksinya…
“Biarkan saya menjelaskan. Bulan lalu, pada dua puluh dua Juli,
teka-teki silang ini dikirimkan pada Kepolisian LA oleh pengirim yang
tidak diketahui. Rupanya, tidak ada yang bisa memecahkannya, tapi jika
anda bisa memecahkannya, teka-teki itu menunjukan alamat dari rumah ini.
Dapat diduga bahwa ini adalah semacam peringatan dari pembunuh pada
polisi dan masyarakat pada umumnya. Sebuah pernyataan perang, boleh
dibilang.”
“Begitu rupanya. Tapi tetap saja…”
Disamping apa yang sudah dikatakan L, sebagian dari dirinya sudah
mengabaikan hal itu layaknya seperti teka-teki silang biasa, tapi
sekarang ketika ia bisa melihat petunjuknya dengan mata kepala sendiri,
teka-teki silang itu tampak sangat amat sulit. Petunjuknya tampak sangat
melelahkan sehingga kebanyakan orang akan menyerah bahkan sebelum
mencoba untuk memecahkan salah satunya. Tapi pria di seberangnya telah
memecahkannya sendirian?
“Kau yakin jawabannya menunjukkan alamat ini?”
“Ya. Coba saja simpan dan pecahkan sendiri kalau anda ragu.
Bagaimanapun, pembunuh yang mengirim peringatan biasanya mencari
perhatian, kalau mereka tidak punya beberapa alasan lain yang lebih
besar. Dan aspek Wara Ningyo dan ruang tertutup dari kasus cocok dengan
kepribadian itu. Jadi kelihatannya banyak kemungkinan adanya pesan-pesan
lain… atau sesuatu seperti pesan, ditinggalkan di tempat kejadian.
Benar, kan, Misora?”
Kesimpulan yang sama dengan L.
Siapa pria ini?
Jika ia hanya menyatakan sesuatu seperti L, Misora dapat menyimpulkan
bahwa ia mengatakannya berdasarkan percakapan yang ia dengar dari bawah
kasur, tapi untuk benar-benar memiliki salinan dari teka-teki silang
itu, sebuah teka-teki yang seharusnya hanya orang seperti L yang bisa
dapatkan… Pertanyaan akan identitas Ryuzaki sekali lagi telah menjadi
sangat penting untuknya.
“Permisi,” kata Ryuzaki, meletakkan kedua kakinya di tanah dan
menuju, masih membungkuk, ke dapur—seperti meluncur keluar ruangan untuk
memberi Misora waktu untuk menenangkan diri. Ia membuka kulkas dengan
gerakan terlatih, seakan ini adalah rumahnya sendiri, memasukkan
tangannya ke dalam, dan mengeluarkan sebuah toples—dan kemudian
meringkuk kembali ke sofa, meninggalkan pintu kulkas terbuka. Benda itu
tampaknya setoples selai stroberi.
“Ada apa dengan selai itu?”
“Oh, ini milikku. Saya membawanya dan meletakkannya di sana untuk
menjaganya agar tetap dingin. Sudah waktunya makan siang sekarang.”
“Makan siang?”
Masuk akal bahwa tidak akan ada makanan di kulkas orang yang sudah
mati dua minggu yang lalu, tapi makan siang? Misora sendiri menyukai
selai, tapi ia tidak melihat roti sama sekali—dan tidak juga terlintas
di pikirannya ketika Ryuzaki membuka tutupnya, memasukkan tangannya ke
dalam, menyendok selai, dan mulai menjilatinya dari jarinya.
Naomi Misora menganga padanya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Mmm? Ada masalah, Misora?”
“K-kau memiliki kebiasaan makan yang aneh.”
“Benarkah? Menurutku tidak.”
Ryuzaki menyendok segenggam lagi selai ke mulutnya.
“Saat saya mulai berpikir, saya mulai membutuhkan manisan. Jika saya
ingin bekerja dengan baik, selai itu diperlukan. Gula bagus untuk otak.”
“Hunh…”
Misora berpendapat bahwa otaknya perlu perhatian medis khusus lebih
dari gula, tapi saat itu, ia tidak memiliki keberanian untuk berkata
begitu. Bahasa tubuhnya mengingatkannya pada Pooh Bear, tapi Ryuzaki
tidak kuning ataupun menggemaskan, dan tidak mirip beruang sama sekali,
melainkan seorang pria tinggi dengan punggung bungkuk. Saat ia sudah
memakan empat genggam penuh selai, ia meletakkan bibirnya langsung ke
tepi toples seakan itu adalah secangkir teh dan menyeruput isinya dengan
berisik. Dalam beberapa saat ia sudah menghabiskan seluruh toples.
“Maaf untuk penundaannya.”
“Oh… tidak apa-apa.”
“Saya punya selai lagi di kulkas, anda mau?”
“T-tidak terimakasih…”
Makanan itu seperti siksaan. Ia bahkan akan menolaknya kalau pun ia
sudah kelaparan sampai mati. Setiap serat di tubuhnya menolak Ryuzaki.
Sepenuhnya. Misora tidak pernah memiliki kepercayaan diri untuk
memalsukan senyuman, tapi satu yang ia tujukan padanya saat ini tampak
sangat meyakinkan.
Orang dapat tersenyum bahkan saat ketakutan.
“Oke,” kata Ryuzaki, menjilati selai dari jari-jarinya, tidak
menunjukkan tanda bagaimana Misora memandang reaksinya. “Jadi, Misora,
ayo pergi.”
“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Misora, dengan sia-sia mencoba untuk menemukan cara menolak berjabat tangan dengannya.
“Jelas,” kata Ryuzaki, “Untuk melanjutkan penyelidikan kita pada tempat kejadian, Misora.”
Pada saat ini, Misora seharusnya masih mampu untuk (dengan egois)
memilih jalannya pada apa yang akan datang. Ia dapat secara fisik
melempar Ryuzaki keluar dari rumah Believe Bridesmaid, dan kita bahkan
dapat mengatakan, bahwa melakukan itu adalah reaksi yang paling
bijaksana akan keberadaannya, tapi disamping menjadi sangat, sangat
tertarik untuk mengambil langkah bijaksana, Misora meyakinkan dirinya
untuk membiarkan Ryuzaki tinggal. Lebih dari apapun, kemungkinan bahwa
ia telah menguping percakapannya dengan L membuat Ryuzaki berbahaya, dan
bahkan mengabaikan bahwa ia mencurigakan, mengerikan, dan memiliki
salinan teka-teki silang itu, yang telah menutup kesepakatan. Ia perlu
menjaganya dalam pengamatan sampai ia memiliki ide lebih baik tentang
siapa Ryuzaki. Pastinya, siapapun yang tahu lebih banyak tentang
situasinya, siapapun seperti aku, bisa mengatakan bahwa ini tepatnya
yang Ryuzaki harapkan, tepatnya yang ingin ia raih, tapi akan jadi
terlalu berlebihan jika mengharapkan Naomi Misora untuk menyadarinya
sedini ini. Lagipula, beberapa tahun setelah Kasus Pembunuhan Los
Angeles BB, ketika ia dibunuh oleh Kira, Misora tetap yakin bahwa ia
belum pernah bertemu dengan L secara langsung, bahwa ia hanya mematuhi
perintah suara-sintesisnya dari layar komputernya. Tergantung bagaimana
kau melihatnya, ini mungkin saja hal yang bagus untuk dunia bahkan si
pembunuh Kira, yang jika ia tahu sedikit saja seberapa dalam hubungan
Misora dengan L, tidak akan membunuhnya begitu cepat. Hidup L hanya
bertambah beberapa tahun lebih, tapi bahkan itu bisa juga berkat Misora…
nah, tidak penting untuk menduga-duga.
Kembali ke titik ini.
Siapapun yang telah membaca Sherlock Holmes akan mengingat deskripsi
gamblang dari seorang detektif yang berkeliling ruangan, mengamati
lekat-lekat segala sesuatu melalui kaca pembesar. Sebuah kesan khas yang
bekerjasama dengan novel detektif tua yang mana orang tidak pernah
melihat detektif bertindak seperti itu lagi. Untuk hal itu, istilah
novel detektif hampir tidak pernah digunakan—mereka dipanggil novel
misteri, atau novel mengerikan. Tidak ada yang menginginkan detektif
yang benar-benar menduga segalanya—jauh lebih menarik jika mereka hanya
mengatakan kebenarannya. Sama seperti komik untuk anak lelaki di Jepang,
populer di seluruh dunia. Semua buku yang paling populer memiliki
pahlawan dengan pengecualian kekuatan.
Jadi ketika mereka memasuki kamar tidur dan Ryuzaki tiba-tiba turun
dan mengambil posisi merangkak, persis seperti saat ia keluar dari bawah
kasur, dan mulai merangkak ke seluruh ruangan (sekalipun tanpa kaca
pembesar) Misora benar-benar terkejut. Kelihatannya, berada di bawah
tempat tidur bukan satu-satunya alasan untuk sikapnya ini. Ia tampak
begitu terbiasa mengahbiskan waktu merangkak-rangkak sampai ia terlihat
akan memanjat dinding dan melintasi langit-langit.
“Apa yang kau tunggu, Misora? Bergabunglah denganku!”
Misora menggelengkan kepala cepat sekali hingga membuat pandangannya kabur.
Itu menghina kehormatannya sebagai wanita. Bukan, sebagai
manusia—bergabung dengannya akan selamanya memisahkannya dari sesuatu
yang sungguh-sungguh penting.
“Oh? Sayang sekali,” kata Ryuzaki, rupanya tidak pernah memiliki
sesuatu yang penting itu dari awal. Ia menggelengkan kepalanya dengan
sedih dan melanjutkan menyelidiki ruangan.
“T-tapi Ryuzaki… menurutku tidak ada lagi yang tertinggal disini
untuk ditemukan. Maksudku, polisi sudah mencarinya dengan sangat
teliti…”
“Tapi polisi melewatkan teka-teki silangnya. Sama sekali tidak
mengejutkan bagiku jika mereka melewatkan sesuatu yang lain di sini.”
“Jika kau menganggapnya seperti itu… tapi hanya ada sangat sedikit
hal yang diketahui. Aku harap aku memiliki petunjuk untuk apa yang
harusnya kucari—ruangannya terlalu kosong untuk hanya asal memeriksanya
secara acak. Dan rumah ini terlalu luas.”
“Sebuah petunjuk…?” kata Ryuzaki, berhenti di tengah gerakan
setengah-merangkak. Lalu perlahan ia menggigit jempolnya dengan
hati-hati sampai tampak seperti sedang berfikir sangat keras, namun arti
gerakan itu terlalu kekanak-kanakan yang membuatnya terlihat sangat
bodoh juga. Misora tidak bisa memutuskan mana yang keluar jadi pemenang.
“Bagaimana, Misora? Ketika anda masuk, apakah anda memikirkan sesuatu?
Apapun yang bisa membantu menyempitkannya?”
“Emm… ya, tapi…”
Ada satu hal tentang potongan di dada korban. Ia sepenuhnya tidak
yakin ia harus mengatakan semua itu pada Ryuzaki. Tapi, di sisi lain
memang benar bahwa ia tidak bergerak kemana-mana… baik dengan kasusnya,
atau dengan Ryuzaki. Mungkin ia harus menguji Ryuzaki, seperti halnya ia
telah mengamati reaksi Misora saat ia mengulurkan padanya teka-teki
silang itu. Jika Misora bisa memainkan kartunya dengan benar, ia mungkin
bisa mengetahui apakah Ryuzaki telah mendengar teleponnya dari bawah
kasur.
“Baik… Ryuzaki, sebagai ucapan terimakasih atas sebelulmnya, daripada
sebuah pertukaran informasi yang lengkap… lihatlah foto ini.”
“Foto?” kata Ryuzaki, dengan reaksi yang sangat dibesar-besarkan
hingga orang akan mengira ia tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya.
Ryuzaki mendekat padanya… masih dengan merangkak, dan tidak repot-repot
membalik badan. Ia benar-benar merangkak mundur kearahnya, sebuah
gerakan yang pasti sudah membuat anak kecil menangis.
“Sebuah gambar korban.” kata Misora, menyerahkan foto otopsi padanya.
Ryuzaki mengambilnya, mengangguk penting—atau membuat seolah sedang
mengangguk penting. Cukup dengan pengujiannya dari reaksi tak
terbayangkan Ryuzaki, ia benar-benar tidak dapat menyimpulkan apapun.
“Bagus, Misora!”
“Ya?”
“Berita tidak menyebutkan bahwa tubuhnya dipotong seperti ini, yang
berarti foto ini berasal dari dokumen kepolisian. Saya kagum bahwa anda
bisa mendapatkannya. Anda jelas bukan detektif biasa.”
“…Jadi bagaimana kau mendapatkan teka-teki silang itu, Ryuzaki?”
“Itu akan tetap menjadi rahasiaku.”
Serangan baliknya dipatahkan dengan sangat mudah. Ia terlambat
berharap bahwa ia telah membolehkan Ryuzaki untuk menolak bahwa ia
memiliki rahasia, bahwa ia tidak pernah mengajarinya konsep itu sejak
awal. Ia juga sangat yakin itu tidak masuk akal secara gramatikal.
“Saya juga tidak bertanya bagaimana kau mendapatkan foto ini, Misora. Tapi bagaimana ini bisa berhubungan dengan idemu?”
“Ya, baiklah… Kupikir jika pesannya mungkin berada pada sesuatu yang
sudah tidak ada di ruangan lagi, tapi ada di ruangan pada saat itu. Dan
yang hal yang paling jelas yang seharusnya ada disini, tetapi tidak
ada…”
“Adalah pemilik ruangan, Belive Bridesmaid. Pintar.”
“Dan jika kau melihat gambar itu dari sudut yang benar… apakah bekas
luka itu terlihat seperti huruf bagimu? Kupikir mungkin itu adalah
semacam pesan…”
“Oh?” kata Ryuzaki, menahan gambarnya tetap diam sempurna ketika ia
menggerakkan kepalanya dengan tersentak-sentak. Apakah tidak ada tulang
yang padat di lehernya? Ia bergerak seperti manusia karet. Misora
melawan keinginannya untuk berpaling. “Bukan, bukan huruf.”
“Bukan? Kukira terbaca seperti itu…”
“Bukan, bukan, Misora, saya tidak menyangkal seluruh idenya, hanya sebagian. Ini bukan huruf, tapi angka Romawi.”
Oh.
Benar, angka Romawi, hal yang sama yang ia lihat pada jam dan rak
dinding setiap hari—V dan I, jelas, dan C, M, D, X, dan L… ia harusnya
sudah menduganya ketika ia melihat tiga I saling berdekatan—itu bukan
tiga I, tapi III. Tapi ada L juga setelahnya, dan ia telah
menghubungkannya dengan nama detektif itu dan teralih sendiri.
“I adalah satu, II adalah dua, III adalah tiga, IV adalah empat, V
adalah lima, VI adalah enam, VII adalah tujuh, VIII adalah delapan, IX
adalah sembilan, X adalah sepuluh, L adalah lima puluh, C adalah
seratus, D adalah lima ratus, M adalah seribu. Jadi luka ini bisa dibaca
sebagai 16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31,” kata
Ryuzaki, membaca angka-angka yang rumit tanpa sedetikpun jeda. Apakah
ia ahli dalam angka Romawi, atau apakah pikirannya benar-benar bekerja
secepat itu?
“Ini cuma foto, jadi mungkin saya tidak membacanya dengan benar, tapi ada delapan puluh persen kemungkinan saya benar.”
“Persen?”
“Bagaimanapun, saya takut itu tidak mengubah situasi. Kecuali kita
bisa menemukan apa seharusnya arti angka-angka itu, akan sangan
berbahaya menduga bahwa mereka adalah pesan dari si pembunuh. Mungkin
mereka pengalih perhatian.”
“Permisi, Ryuzaki,” kata Misora, mengambil satu langkah ke belakang.
“Untuk apa?”
“Aku harus membenahi riasanku.”
Tanpa menunggu respon, Misora meninggalkan kamar tidur dan menaiki
tangga, menuju toilet di lantai dua (bukan di lantai satu). Ia mengunci
pintunya dari dalam dan mengeluarkan telepon genggamnya. Ia ragu-ragu
sesaat, lalu menelepon L. Di saluran nomor lima. Beberapa bunyi bip
singkat, dan akhirnya terhubung.
“Ada apa, Naomi Misora?”
Suara sintetis itu.
Merendahkan suaranya dan menyembunyikan mulutnya di balik tangannya, Misora berkata, “Sesuatu yang harus kulaporkan.”
“Kemajuan dalam kasus? Kerja yang sangat cepat.”
“Bukan… yah, sedikit. Aku mungkin telah menemukan sebuah pesan dari si pembunuh.”
“Mengagumkan.”
“Tapi bukan aku yang menyadarinya. Bagaimana mengatakannya… semacam detektif pribadi yang misterius…”
Seorang detektif pribadi misterius.
Kalimat itu hampir membuatnya tertawa.
“…baru saja muncul.”
“Begitu,” suara sintetis itu berkata, lalu terdiam.
Itu adalah kesunyian yang sama sekali tidak nyaman untuk Misora, ia
telah memutuskan untuk menunjukkan gambar itu pada Ryuzaki dan bermaksud
mengujinya. Ketika L tidak mengatakan apa-apa, Misora melanjutkan
dengan menjelaskan apa yang Ryuzaki katakan tentang foto otopsi itu. Dan
bahwa ia memiliki salinan dari teka-teki silang itu. Sepotong informasi
ini akhirnya menghasilkan reaksi dari L, tapi karena itu hanyalah suara
sintetis, ia tidak bisa membaca emosi di baliknya.
“Apa yang harus kulakukan? Sebetulnya, kupikir berbahaya untuk melepaskan pandanganku darinya.”
“Apakah ia keren?”
“Hunh?”
Pertanyaan L benar-benar keluar dari pembicaraan, dan ia memaksa
untuk menanyakannya untuk kedua kalinya sebelum Misora menjawab, masih
tidak bisa mengerti dengan arah pembicaraan.
“Tidak, sepenuhnya tidak,” katanya jujur, “Menyeramkan dan
menyedihkan, dan sangat mencurigakan hingga jika aku tidak sedang cuti,
aku akan langsung menahannya ketika aku melihatnya. Jika kita membagi
semua orang di dunia menjadi yang lebih baik mati atau tidak, tak ada
keraguan di benakku bahwa ia akan jadi yang pertama. Benar-benar orang
aneh yang membuatku kagum bahwa ia belum membunuh dirinya sendiri.”
“…”
Tidak ada jawaban.
Tentang apa ini sebenarnya?
“Naomi Misora, instruksi anda.”
“Ya?”
“Saya membayangkan bahwa anda berfikir hal yang kurang lebih sama
dengan saya, tapi biarkan detektif pribadi ini melakukan apa yang
disukainya untuk sementara. Sebagian karena itu berbahaya membiarkannya
lepas dari pengawasan anda, tapi lebih penting lagi karena sangat
penting untuk mengamati gerakannya. Saya percaya pujian untuk dugaan
foto autopsi lebih menjadi milik anda daripada miliknya, tapi ia jelas
bukan orang biasa.”
“Aku setuju.”
“Apakah ia ada di dekat sini?”
“Tidak, aku sendirian. Aku menelepon dari kamar mandi, di lantai atas dan di belakang rumah, jauh dari kamar tidur.”
“Segera kembalilah ke sisinya. Saya akan menyelidikinya, dan mencoba
untuk menemukan apakah seorang detektif bernama Ryuzaki benar-benar
telah disewa oleh orangtua Believe Bridesmaid.”
“Baik.”
“Anda bisa menggunakan saluran yang sama lain kali menelepon.” Dan ia menutup telepon.
Misora menutup teleponnya.
Ia harus kembali secepatnya, sehingga tidak akan tampak mencurigakan,
tapi ia telah meninggalkannya dengan waktu yang kurang tepat, pergi ke
kamar mandi.
Ryuzaki sedang berdiri tepat di depan pintu. “Eek…!”
“Misora. Anda ada di atas sini?”
Ia tidak sedang merangkak, tapi meskipun begitu, Misora menelan ludah. Sudah berapa lama ia ada di sana?
“Setelah anda keluar dari ruangan, saya menemukan sesuatu yang
menarik dan tidak bisa menunggu. Jadi saya menyusul. Apakah anda sudah
selesai?
“Y-ya…”
“Kemarilah.”
Ia berderap keluar, masih membungkuk, menuju tangga. Masih
terguncang, Misora mengikutinya. Apakah ia telah mendengarkan semuanya
dari balik pintu? Pertanyaan ini menyiksanya. Ia menemukan sesuatu yang
menarik? Itu mungkin saja hanya beberapa kalimat… ia telah menjaga
suaranya sangat pelan sehingga tidak mungkin ia bisa mendengar, tapi
bagaimanapun ia telah hampir pasti mencoba untuk menguping. Yang
berarti…
“Oh, Misora,” kata Ryuzaki, tanpa berbalik.
“Y-ya?”
“Kenapa saya tidak mendengar suara siraman toilet sebelum anda keluar ruangan?”
“Sepertinya terdengar kasar untuk menanyakan hal seperti itu pada
seorang gadis, Ryuzaki,” ucap Misora akhirnya, agak canggung karena
kesalahannya. Ryuzaki tidak tampak terpengaruh.
“Benarkah? Bagaimanapun… belum terlambat kalau anda belum
menyiramnya. Anda masih bisa kembali. Gender dianggap sama saja kalau
berhubungan dengan kebersihan.”
Cara yang benar-benar menyeramkan untuk menyimpulkannya.
Dalam setiap katanya.
“Aku tadi sedang menelepon. Laporan teratur untuk klien-ku. Tapi aku tidak ingin kau mendengarnya.”
“Oh? Tapi tetap saja, mulai sekarang, lebih baik anda menyiramnya. Untuk kamuflase juga bagus.”
“Sepertinya begitu.”
Mereka sampai di kamar tidur. Ryuzaki langsung merangkak setelah
melewati ambang pintu. Terlihat lebih seperti kegiatan religius pembawa
sial daripada penyelidikan Sherlock Holmes.
“Di sebelah sini.” Ryuzaki meraih dirinya sendiri melewati karpet ke arah rak buku.
Rak buku milik Believe Braidsmaid, dengan lima-puluh-tujuh buku yang
tertata rapi. Itu adalah tempat pertama yang diselidikinya setelah
berbicara dengan L.
“Kau bilang kau menemukan sesuatu yang baru?”
“Ya. Sesuatu yang baru—tidak, lebih tepatnya begini. Saya sudah menemukan fakta penting.”
Usaha Ryuzaki untuk terlihat keren mengganggunya. Ia mengabaikannya.
“Jadi, maksudmu, kau menemukan semacam petunjuk, begitu?”
“Lihat,” kata Ryuzaki, menunjuk sisi kanan rak kedua dari bawah. “Ada
sebelas seri dari komik Jepang terkenal bernama Akazukin Chacha.”
“Lalu?”
“Saya suka komik ini.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Bagaimana ia harus merespon? Berlawanan dengan harapannya, ia
merasakan ekspresinya melembut, namun tidak berusaha untuk memeriksa
penolakan dalam dirinya, saat Ryuzaki melanjutkan.
“Kau Nikkei, bukan?”
“Nikkei…? Kedua orangtuaku berasal dari Jepang. Pasporku sekarang
memang Amerika, tapi aku tinggal di Jepang hingga setelah SMA…”
“Jadi anda pasti tahu komik ini. Ciptaan legendaris Min Ayahana. Saya
membaca semua serinya. Shiine benar-benar mengagumkan! Saya suka
anime-nya juga. Cinta dan keberanian dan harapan—Holy Up!”
“Ryuzaki, kau mau seperti ini dulu beberapa saat? Kalau begitu, aku akan menunggu di ruangan lain…”
“Kenapa anda melakukannya saat saya bicara denganmu?”
“Er, um… maksudku, aku juga menyukai Akazukin Chacha. Aku menonton
anime-nya. Aku juga mengalami cinta, keberanian, harapan dan Holy Up.”
Ia benar-benar ingin memberitahu Ryuzaki tepatnya betapa sedikit
kepeduliannya pada hobi Ryuzaki, namun diragukan apakah detektif pribadi
ini bisa mengerti pendapat yang ditujukan padanya masuk akal. Meragukan
seperti Ryuzaki sendiri.
Atau apakah itu terlalu membesar-besarkan?
“Bagus. Kita harus membicarakan detil kesenangan yang diberika anime di lain waktu, tapi untuk sekarang, lihat di sini.”
“Hunh…” ucap Misora, melihat serial Akazukin Chacha di rak buku dengan patuh.
“Menyadari sesuatu?”
“Tidak juga…”
Itu hanyalah setumpuk komik. Pada dasarnya mereka dapat menyimpulkan
Believe Braidsmaid pintar berbahasa Jepang, dan menyukai komik… tapi
banyak orang seperti itu di Amerika. Membaca versi Jepang asli dan bukan
terjemahannya juga bukan hal yang benar-benar aneh. Dengan adanya jual
beli Internet, sangat mudah untuk mendapatkannya.
Mata bertepi-gelap Ryuzaki menatap lurus padanya. Merasa tidak
nyaman, Misora menghindari tatapannya, memeriksa setiap seri. Namun
bahkan setelah ia selesai memeriksa semuanya, ia tidak menemukan fakta
yang menarik atau apapun yang bisa dijadikan petunjuk.
“Aku tidak melihat apa-apa… ada sesuatu tentang satu dari komik-komik ini?”
“Tidak.”
“Hah?” Ada lebih dari nada marah dari suaranya. Ia tidak suka dipermainkan. “Tidak? Apa maksudmu?”
“Bukan salah satu,” kata Ryuzaki. “Sesuatu yang seharusnya ada di
sini, tetapi tidak ada. Misora, anda lah yang menemukannya—pesan apapun
dari sang pembunuh menunjukkan apapun yang seharusnya ada menjadi tidak
ada. Anda lah yang menemukan bahwa ini berarti tubuh Believe
Braidsmaid. Saya tidak berpikir saya harus menjelaskan ini padamu—lihat
baik-baik, Misora. Tidak semua ada di sini. Seri keempat dan kesembilan
hilang.”
“Eh?”
“Akazukin Chacha ada tiga belas seri. Bukan sebelas.”
Misora melihat buku-buku itu lagi, dan nomornya berurutan dari satu,
dua, dan tiga ke lima, enam, tujuh, dan delapan ke sepuluh. Jika Ryuzaki
benar, dan ada tiga belas seri, jadi dua seri menghilang—seri empat dan
sembilan.
“Hmm… benar. Tapi… Ryuzaki, lalu kenapa? Maksudmu pembunuhnya
mengambul dua seri itu bersamanya? Itu memang mungkin, tapi sepertinya
mereka memang menghilang dari awal. Mungkin ia bermaksud mengambilnya
nanti. Tidak semua orang membaca komik berurutan, kau tahu. Maksudku,
mungkin ia berhenti di tengah-tengah bagian Dickwood, di sini…”
“Mustahil,” kata Ryuzaki, yakin “Tidak ada yang akan melewati dua
seri di tengah-tengah Akazukin Chacha. Say benar-benar yakin fakta ini
dapat diterima di pengadilan.”
Pria ini pernah ada di pengadilan?
“Atau paling tidak, jika anggota jaksa tahu banyak tentang komik Jepang.”
“Jaksa yang buruk.”
“Pembunuhnya jelas-jelas membawa buku-buku itu bersamanya,” kata
Ryuzaki, terang-terangan mengacuhkannya. Misora tidak akan membiarkan
ini. Kakinya tertanam di tanah yang lebih realistis.
“Tapi kau tidak punya bukti sama sekali, Ryuzaki. Sama mungkinnya jika ia hanya meminjamkannya pada seorang teman.”
“Akazukin Chacha?! Anda bahkan tidak akan meminjamkannya pada
orangtuamu! Anda akan menyuruh mereka membelinya sendiri! Satu-satunya
penjelasan yang mungkin adalah pembunuh itu mengambilnya!” Ryuzaki
bersikeras, cukup memaksa.
Ia tidak berhenti di sana.
“Lagipula, tidak ada seorangpun yang hanya ingin membaca seri keempat dan kesembilan—saya berani mempertaruhkan selaiku!”
“Jika maksudmu selai yang tadi kau makan, setoples hanya berharga sekitar lima dolar.”
Min Ayahana pasti akan menjadi sangat kecewa.
“Jadi itu cocok, Misora, bahwa saat pembunuh itu memindahkan dua seri
dari ruangan, ia menggantinya dengan benda lain, untuk alasan yang sama
sekali tak ada hubungannya.”
Karena dua buku itu memang menghilang, mengabaikan logika dan
kemungkinan untuk saat ini dan mengikuti hipotesis ini… “Tetap saja
aneh, ‘kan? Maksudku, Ryuzaki, rak buku ini…”
Terisi penuh. Sangat rapat sehingga akan sulit untuk memindahkan
sebuah buku. Jika ia benar-benar memindahkan dua seri, maka seharusnya
akan ada celah… atau…
“Ryuzaki. Apa kau tahu berapa banyak halaman dari buku keempat dan kesembilan Akazukin Chacha?”
“Ya. 192 halaman dan 184 halaman.”
Ia tidak mengharapkan Ryuzaki untuk tahu jawabannnya… tetapi 192
ditambah 184 adalah 376 halaman. Misora memandang sekilas sepanjang rak,
mencari dari lima-puluh-tujuh buku untuk sebuah buku setebal 376
halaman. Tidak butuh waktu lama. Hanya ada satu buku setebal itu di rak
ini—
Insufficient Relaxation oleh Permit Winter.
Ketika ia mengambilnya dari rak, memang, buku itu benar-benar 376 halaman.
Misora membuka-buka halamannya dengan penuh harap, tapi ia tidak menemukan hal yang terlihat menarik.
“Ada apa, Misora?”
“Oh… aku berpikir jika pembunuhnya menaruh pengganti di rak untuk
menggantikan dua buku yang diambilnya dan jika pengganti itu adalah
pesan yang sebenarnya.”
Dengan asumsi memang Believe Bridesmaid yang telah menyusun bukunya
dengan hati-hati sehingga mengisi rak dengan tepat. Mungkin saja itu
terjadi terburu-buru, dan sang pembunuh mengisi dengan buku dari ruangan
lain sekenanya—dan dengan pikiran itu, tidak ada yang tahu apakah
Akazukin Chacha memang milik Belive Bridesmaid. Dengan kurangnya
pembatas buku, mungkin saja itu bagian dari pesan pembunuh—tapi lalu
apa? Jika memang begitu, hanya akan membuatnya lebih jelas bahwa ada
pesan yang tertinggal. Tapi jika tidak ada yang aneh pada rak buku itu
sendiri, maka seluruh teori runtuh. Tidak lebih dari sekedar khayalan.
“Tidak buruk. Bukan, malah sangat bagus—selain itu tak akan masuk akal,” kata Ryuzaki, meraih ke arah Misora.
Sesaat ia mengira Ryuzaki ingin berjabat tangan, dan panik, tapi kemudian ia menyadari Ryuzaki hanya menginginkan
Insufficient Relaxation.
Ia menyerahkannya pada Ryuzaki. Ryuzaki mengambilnya dengan telunjuk
dan ibu jarinya, dan mulai membaca. Membaca cepat—ia melewati 376
halaman dengan kecepatan luar biasa.
Kurang dari lima menit untuk membaca seluruh buku.
Misora hampir ingin membuatnya membaca Natsuhiko Kyogoku[1].
“Saya tahu!”
“Eh? Kau menemukan sesuatu?”
“Tidak. Tidak ada apapun di sini. Jangan melihatku seperti itu. Saya
bersumpah, saya tidak bercanda. Ini hanya novel hiburan, bukan pesan,
atau bahkan metafora seperti Wara Ningyo. Dan tentu saja, tidak ada
huruf apapun yang tersembunyi di antara halaman, atau tersisip di garis
tepi.”
“Garis tepi?”
“Ya, tidak ada apapun di garis tepi kecuali nomor halaman.”
“Nomor halaman?” gaung Misora. Nomor halaman… angka? Angka, seperti… angka Romawi?
“Ryuzaki, jika potongan di dada korban adalah angka Romawi, apa yang dikatakannya”
“16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31.”
Ingatan yang bagus. Bahkan tanpa melihat kembali fotonya. Hampir
seperti ingatan fotografis—pertama halaman buku, dan sekarang ini.
“Kenapa dengan itu?”
“Mungkin saja mereka menunjukkan halaman dalam buku ini, tapi… dua
dari angka-angka itu empat digit. Buku itu hanya setebal 376 halaman.
Tidak cocok.”
“Ya… tidak, Misora, bagaimana jika itu berputar balik? Contohnya, 476
bisa dilihat sebagai 376 ditambah seratus, dan menunjukkan halaman
100.”
“…yang maksudnya?”
“Aku tidak tahu. Coba saja… 16 mudah, halaman 16. 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, 31…”
Ryuzaki menyipitkan mata bertepi-gelap-nya.
Bahkan tidak melihat buku. Benarkah? Bahkan dalam kecepatan membaca
seperti itu, ia mengingat seluruh isinya dengan sempurna? Apakah itu
mungkin? Apakah ia benar-benar bisa melakukannya? Apapun itu, Misora
hanya bisa berdiri dan menunggu.
“… aku tahu.”
“Bahwa tidak ada apapun di sana?”
“Tidak… ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sangat spesifik, Misora.” Ryuzaki menyerahkan
Insufficient Relaxation kembali ke Misora. “Buka halaman 16,” ucapnya.
“Baik.”
“Apa kata pertama halaman itu?”
“Quadratic.”
“Selanjutnya halaman 59. Kata pertamanya?”
“Ukulele.”
“Selanjutnya halaman 295. 1423 berputar tiga kali, dan mencapai 295 di putaran keempat. Kata pertama?”
“Tenacious.”
Mereka melanjutkan. 159 adalah halaman 159, 13 adalah 13, 7 adalah 7,
582 adalah 206, 752 adalah 348, 1001 adalah 249, 40 adalah 40, 51
adalah 51, dan 31 adalah 31, dan di setiap halaman, Misora membacakan
kata pertamanya. Secara berurutan: “rabble,” “table,” “egg,” “arbiter,”
“equable,” “thud,” “effect,”“elsewhere,” dan “name.”
“Jadi.”
“Jadi… apa?”
“Ambil huruf pertama dari setiap kata.”
“Huruf pertama? Um…”
Misora kembali ke masing-masing halaman lagi. Ia tidak memiliki
ingatan yang buruk, tetapi tidak bisa mengingat dua puluh kata
sekaligus. Paling tidak, tidak tanpa diperingatkan bahwa ia harus
melakukannya.
“Q-U-T-R-T-E-A-E-T-E-E-N… qutr te a teen? Apa?”
“Sangat mirip dengan nama korban kedua, benar?”
“Mungkin…”
Korban kedua. Gadis berumur tiga-belas tahun. Quarter Queen.
“Ada kemiripan yang samar… Quarter Queen… hanya ada empat huruf berbeda.”
“Ya. Bagaimanapun,” kata Ryuzaki, enggan. “Empat huruf dari dua belas
terlalu banyak. Sepertiga dari mereka salah. Bahkan jika satu huruf
saja berbeda, seluruh teorinya runtuh. Kecuali itu sesuai dengan
sempurna, tidak bisa dibilang pesan. Kukira akan ada sesuatu, tapi
mungkin saja hanya kebetulan…”
“Tapi… untuk sebuah kebetulan…”
Terlalu jelas.
Bagaimana bisa?
Itu pasti disengaja.
Disengaja… atau abnormal.
“Tetap saja, Misora… tidak cocok tetap tidak cocok. Kita tadi sangat dekat, tapi…”
“Tidak, Ryuzaki. Coba pikir. Empat nomor yang salah adalah nomor di atas 376. mereka semua angka yang harus diputar balik.”
Ia membalik melintasi halaman, memeriksanya lagi. Halaman 295, kata
pertama: tenacious, huruf pertama: T, huruf kedua E, huruf ketiga N,
huruf keempat.. A.
“Tiga kali putaran, dan di putaran keempat… kita tidak menggunakan
huruf pertama, melainkan huruf keempat. Bukan T, tetapi A. Dan dengan
582, dan “arbiter”, sekali memutar dan di putaran kedua menghasilkan R
bukannya A. Itu mengubah Qutrtea menjadi Quarter.”
Dengan logika yang sama, “equable” adalah 724, jadi sekali memutar, pada putaran kedua, huruf kedua: Q.
Dan dengan 1001 dan “thud”—bukan T, tetapi U. Itu membuat Eteen menjadi Queen. Quarter Queen. L memang benar.
Pembunuhnya meninggalkan pesan.
Potongan di tubuh, dua buku yang hilang—pembunuhnya telah
meninggalkan pesan. Sama seperti teka-teki silang yang dikirim pada
polisi, sebuah pesan menjelaskan korban berikutnya…
“Kerja bagus, Misora,” kata Ryuzaki, tenang. “Analisis yang sangat bagus. Tak pernah terlintas di pikiranku.”
.
.
-Bersambung di halaman 3: Oposisi-